Anda berada di
Beranda > News > Angkat Isu Kekerasan Seksual, Novel “Suara Rindu” Di-launching di Acara Selasa Sastra

Angkat Isu Kekerasan Seksual, Novel “Suara Rindu” Di-launching di Acara Selasa Sastra

BANTUL – Rindu, tokoh perempuan dalam novel ‘Suara Rindu’ yang ditulis oleh Dila Sari Octaviana, mengalami peristiwa yang sangat tragis. Ia harus mengalami kekerasan seksual oleh lelaki di rumahnya sendiri.

Novel dengan tema kekerasan seksual umumnya jarang diangkat oleh penulis novel lain. Namun di sini, Dila memberanikan diri untuk mengangkat isu yang terbilang sensitif ini, untuk bisa mengulik sisi lain di balik kekerasan seksual dalam lingkungan rumah tangga, yang selama ini juga cenderung tidak banyak dibahas, baik itu di media massa, media sosial, psikolog, dan sebagainya.

Ada beberapa isu kekerasan seksual yang diangkat dalam novel ini, diantaranya pemerkosaan sedarah, pernikahan siri yang merugikan pihak perempuan, dan masih banyak lagi.

Meskipun sudah pernah menulis novel lain dengan genre serupa, namun bagi Dila, menulis novel “Suara Rindu” adalah puncak pencapaian tersendiri selama berkiprah sebagai penulis.

“Jika di buku sebelumnya novel ‘Cinta yang Sebenarnya’, merupakan tulisan aku di masa muda dulu, dan rasanya masih kurang berbobot. Di novel ini pun awalnya menulis juga seperti kurang greget, sampai hingga harus melakukan riset lagi untuk memperkuat kisah bagi sang tokoh di novel ini,” ucap Dila di Kelingan Garden Cafe, Minggu (15/2/2026).

Dila menambahkan, ketika dirinya kerap melihat kenyataan di lingkungan sekitarnya, dan juga berbagai berita yang ada di media mengenai kekerasan seksual dari sudut pandang perempuan, membuatnya yakin untuk menyelesaikan novel ini.

“Berbagai pengamatan dan informasi yang aku dapatkan tentang kekerasan seksual akhirnya membuatku mantap menyelesaikan novel ini,” tambah Dila yang sehari-hari bekerja sebagai guru mata pelajaran Informatika dan Seni Budaya di MTs Saintek Nurul Quran HDWR, Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul.

Novel “suara Rindu” karya Dila Sari Octaviana ini resmi diluncurkan di Kelingan Garden Cafe dalam perhelatan Selasa Sastra, yang berlangsung di tengah hujan badai yang melanda Bantul dan sekitarnya pada Minggu (15/2/2026).

Selain momen launching, novel yang satu ini juga turut didiskusikan sekaligus dibedah, dengan menghadirkan narasumber Muyassarotul Hafidzoh, yang sehari-harinya merupakan aktivis advokasi korban kekerasan seksual.

“Saya sangat bangga akhirnya novel ini bisa terbit, karena cukup sedikit novel yang berani mengangkat isu kekerasan seksual, apalagi dari sudut pandang perempuan. Novel ini terbilang menarik karena mengangkat sudut pandang korban kekerasan seksual, khususnya perempuan, yang di sini diceritakan bahwa dia berani speak up dan kemudian melakukan transformasi diri, menjadi konselor pendamping bagi korban kekerasan seksual, dan seterusnya bisa dibaca langsung di novelnya” jelas Muyas panggilan akrabnya.

Pada kesempatan yang sama, Lurah Bangunharjo Sewon Bantul yang juga sekretaris PCNU Bantul, Nur Hidayat, merasa bangga oleh pencapaian Dila, yang juga seorang anggota Fatayat NU di Bantul.

“Kami sangat bangga terhadap Dila, karena ada kader NU usia Gen Z yang mau membuat karya yang kekinian seperti ini. Ini sangat jarang dilakukan oleh kader NU, yang bisa menuliskan karya sastra berkualitas sebagus ini. semoga karyanya mendunia,” jelas Nur Hidayat.

Adapun Selasa Sastra kali ini mengusung tema “Tapak Batas Rindu” yang berisi pementasan karya sastra oleh Rika Rif’atil Hilmah, Faza Aulia Rahma, Muhammad Ilham Izzul Mutho, Nikta Azilda, Sabatina RW, Bang Tedi Way, dan Muyassarotul Hafidzoh.

Selain pementasan karya sastra, ada pula pertunjukan musik dari DMR Band, Dikki & Friends, Rhakustik, dan group Kiki Ratna Heri.

Dila sendiri berharap bahwa novel terbaru yang di-launching kali ini dapat memberi kontribusi yang nyata, kaitannya dalam trauma healing bagi para korban kekerasan seksuai di Indonesia. Selain itu, ia juga berharap agar kesempatan ini juga mampu memotivasi anak-anak muda lainnya di luar sana, untuk berani menerbitkan karya tentang topik-topik sensitif lainnya, yang selama ini jarang mendapat perhatian dari masyarakat maupun pemerintah. (tks/qin)

Artikel Serupa

Ke Atas