BANTUL – Ada banyak cara maupun ide yang bisa dituangkan untuk menjadi sebuah karya sastra. Salah satunya melalui pengalaman pribadi di masa lalu. Apalagi jika berbicara tentang pengalaman asmara. Manusia tidak akan pernah kehabisan ide dan cerita, untuk mendeskripsikan peristiwa yang satu ini, termasuk ke dalam karya sastra. Mungkin itulah yang menjadi
Sastra
Eksplorasi Imajinasi Tanpa Batas Hasilkan Antologi Cerpen Fiksi
BANTUL – Imajinasi manusia bisa melahirkan banyak peluang baru. Salah satunya peluang menghasilkan karya sastra. Mungkin itulah yang mengilhami Rizqi Nur Sholikha (Leha), seorang siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Yogyakarta, untuk dapat membuat antologi cerpen berjudul -20 Hz. Dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini tampak bukan
Mendoakan “Kesuksesan Pribadi” Melalui Penulisan Cerpen Fiksi
BANTUL- Perwujudan doa bisa datang dari mana saja. Salah satunya berasal dari karya sastra. Salah satu siswi Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Frisca Nazula Pawestri, seperti terilhami untuk mengucapkan doa melalui buku cerpen yang ia tulis sendiri, dengan judul yang terkesan subjektif, namun sangat “gue banget”, yakni Frisca. Cerpen berjudul Frisca
Menciptakan Pertemanan yang ‘Berisik’ Tapi Tetap Mampu ’Berbisik’ di Ruang Bilik Kehidupan
BANTUL - Dari seluruh fase kehidupan, bisa dibilang fase remaja adalah periode terindah yang pernah dialami oleh manusia. Sebab usia remaja (10-18 tahun) merupakan masa-masa di mana manusia sedang dalam pencarian jati diri, transisi menuju kedewasaan, mulai merasakan jatuh cinta, serta munculnya pertemanan yang solid. Poin terakhir menjadi salah satu titik
Melestarikan Talenta Sastra Melalui Program Dinas Kebudayaan
Suasana diskusi antologi puisi dalam acara Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory) BANTUL - Ada banyak cara untuk memperkenalkan dunia sastra kepada generasi muda. Salah satunya melalui program yang disediakan oleh Pemerintah, dalam hal ini adalah Dinas Kebudayaan. Berkat salah satu programnya bernama “Temu Karya Sastra” (TKS) dengan
Mengapa Seni Cukil Kayu Tidak Setenar Seni Lukis Kontemporer?
Kumpulan lukisan cukil kayu karya Syahrizal Pahlevi (Foto: Azka Qintory) BANTUL - Dalam dunia seni lukis, sebuah lukisan bisa dihargai dengan sangat mahal, lantaran memiliki nilai seni (estetika) yang tinggi, keunikan/kelangkaan (originalitas), reputasi seniman yang cukup mentereng, serta nilai sejarah atau emosional yang mendalam. Salah satu yang cukup menjadi perbincangan publik, adalah
Melukis dengan Cukil Kayu Lebih Menantang, Tapi Lebih Menyenangkan
Syahrizal Pahlevi (kanan) saat menceritakan tentang pameran lukis cukil kayu kepada awak media (Foto: Azka Qintory) BANTUL - Seniman selalu memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan ide dan gagasannya, untuk dituangkan menjadi sebuah mahakarya yang layak disaksikan oleh banyak orang. Menurut Syahrizal Pahlevi, seorang seniman asal Palembang, Sumatera Selatan, yang sehari-hari menggeluti seni
GALERI FOTO: Regas Awali 2026 Dengan Pergantian Pengurus dan Buka Puasa Bersama
Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan
Kelingan Garden & Cafe Buka Kelas Pelatihan Seni di Berbagai Bidang, Siap Tumbuhkan Talenta Budaya Masa Depan
BANTUL - Kelingan Garden & Cafe, sebuah cafe hidden gem baru di wilayah Bantul kota, berkolaborasi dengan beberapa lembaga dan organisasi yang ada di Bantul dan sekitarnya, siap menyelenggarakan kelas pelatihan seni dalam berbagai bidang. Adapun bidang-bidang tersebut antara lain Kelas Acting, Kelas Novel, Kelas English Public Speaking, Kelas Jurnalistik
Saatnya Mengkritik Negara Melalui Karya Sastra
Suasana sosialisasi empat pilar kebangsaan di Puri Mataram (Foto: Azka Qintory) SLEMAN - Memasuki masa resesi, anggota MPR RI kembali mensosialisasikan empat pilar kebangsaan, yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Jika selama ini sosialisasi dilakukan kepada mahasiswa, akademisi, masyarakat sipil, dan lain-lain, kali ini MPR berusaha melakukan
