Anda berada di
Beranda > News > Menemukan Kembali Mindfullness Di Tengah Kebisingan Dunia Yang Serba Cepat

Menemukan Kembali Mindfullness Di Tengah Kebisingan Dunia Yang Serba Cepat

Suasana Talkshow Harmony Festival 2024 (foto: Azka Qintory)

BANTUL – Di tengah persaingan dunia yang semakin ketat dan cepat, setiap individu dituntut untuk cepat
beradaptasi dengan segala situasi dan kondisi zaman, sehingga mengharuskan mereka untuk semakin multitasking
(melakukan 2 atau lebih pekerjaan dalam satu waktu), sekaligus membuat waktu dan tenaga mereka semakin terkuras, hanya demi mengejar rupiah yang mungkin jumlahnya juga tidak seberapa.

Sampai suatu ketika mereka pun sudah “terjebak” dalam rutinitas seperti itu, dan melupakan proses refreshing atau
istirahat sejenak dalam aktivitasnya.

Hal inilah yang coba disampaikan oleh Project Child Indonesia, dalam sebuah festival bernama Harmony Festival (HarFest) 2024. HarFest 2024 kali ini mengambil tema “Sustainability And Mindfullness”. Acara ini diselenggarakan pada Minggu (28/1/2024) di Yabbiekayu Restaurant, Sewon, Bantul.

Co-Founder sekaligus Direktur Project Child Indonesia, Surayah Ryha menuturkan bahwa HarFest 2024 adalah suatu wadah berkumpulnya anak-anak dari berbagai Sekolah Sungai di Yogyakarta, untuk dapat mempresentasikan hasil karya mereka yang telah dipelajari bersama para Volunteer dari beberapa Universitas di Yogyakarta.

“Mereka telah menyiapkan project-project tertentu, dan semuanya akan ditampilkan di acara Harmony Festival
(HarFest) ini,” ujar Surayah kepada SPJ.com, Minggu (28/1/2024).

Terkait topik “Sustainability and Mindfullness” sendiri, Surayah mengaku bahwa program ini merupakan salah satu
upaya dari Project Child Indonesia, agar para generasi muda bisa lebih merasakan secara langsung bagaimana
sensasinya dalam mengelola Sustainability dan Mindfullness itu sendiri, sehingga tidak hanya sekedar teori di
kelas, melainkan juga diwujudkan dalam aksi yang nyata di lapangan, yakni dengan membuat sebuah event.

Hasil karya peserta Harmony Festival 2024 (foto: Azka Qintory)

“Kita ketahui bersama di seluruh dunia bahwa selama ini kita lebih banyak (diberikan) pengajaran daripada
mencontohkan (praktek). Jadi kita seringkali datang ke sekolah-sekolah komunitas yang berbicara tentang
keselamatan lingkungan, tata krama, budi pekerti, dan sebagainya, tapi kita luput untuk mencontohkan bagaimana
cara melakukannya kepada mereka,” tambah Surayah.

Project Child Indonesia sendiri merupakan salah satu organisasi yang ia dirikan pada 2011 lalu, dan saat ini
mereka memiliki tujuan jangka panjang untuk menjaga kelestarian lingkungan, serta lebih meningkatkan lagi konektivitas antar manusia. Karena baginya kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini juga terjadi akibat kerusakan manusianya itu sendiri.

“Awalnya kami begitu fokus pada proteksi lingkungan, namun kami tersadar bahwa ketika seseorang belum memiliki pemahaman diri dan mindfullness (kesadaran pemikiran) pada dirinya sendiri, maka akan sulit baginya untuk melakukan segala sesuatu di lingkungan sekitarnya,” sebut Surayah.

Sehingga menurutnya, Mindfullness atau kesadaran diri sendiri adalah suatu “payung” dalam melakukan berbagai aksi nyata di lapangan, yang dimulai dari aksi terhadap diri sendiri terlebih dahulu. Yakni untuk melakukan Pause, diam, berhenti sejenak, sadari, lalu pilih.

“Ketika dia sudah berhenti sejenak, lalu memilih tindakan apa yang ingin ia lakukan, emosi apa yang ingin ia ekspresikan, maka kemungkinan besar tindakan dan emosinya kepada lingkungan dan orang lain pun pastinya akan jauh lebih baik,” tambah Surayah. (qin)

Artikel Serupa

Ke Atas