Anda berada di
Beranda > News > Merayakan HUT Kemerdekaan dengan Pentas Sastra

Merayakan HUT Kemerdekaan dengan Pentas Sastra

Salah satu penampilan pembacaan puisi di acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory)

BANTUL – Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut. 

Apalagi di tahun 2026 ini, Indonesia telah memasuki usia yang ke-81 tahun. Sebuah usia yang bisa dibilang “cukup senior” bagi sebuah bangsa, untuk bisa menentukan arah tujuannya sendiri di masa kini dan masa mendatang.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukkan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Memasuki bulan Agustus ini kita akan memperingati HUT RI yang ke-81, yang mana warna identitasnya (bendera Indonesia) adalah merah dan putih. Dalam hal ini merahnya kita ganti menjadi “meraih” ya (meraih putih). Itu bisa berarti meraih kesucian, kesuksesan, impian, dan seterusnya, yang berkaitan dengan makna kemerdekaan itu sendiri,” ungkap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (4/8/2026).

Memulai Harapan Baru di Bulan Kemerdekaan

Panel discussion on stage with three people: woman in hijab on left, woman with microphone in center, man with microphone on right; library shelves and string lights in background.
Sesi diskusi antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory)

Selain tentang perayaan kemerdekaan, Selasa Sastra edisi kali ini juga mencoba untuk memberikan semacam pengharapan kepada segenap generasi muda, untuk terus berjuang dan meniti masa depan sesuai bidangnya masing-masing, yang juga bisa dikemas dalam pertunjukkan sastra.

“Semoga teman-teman bisa terus berkarya sastra dengan lebih kreatif, produktif, maju, dan sebagainya. Sehingga teman-teman dari generasi muda akan mampu menghasilkan karya yang lebih hebat lagi, dan tentunya “meraih putih” itu tadi, yaitu meraih kejayaan, kemakmuran, dan mimpi-mimpinya bisa terwujud,” tambah Tedi.

Selain pertunjukkan sastra dari para sastrawan kondang di Bantul seperti Tedi Kusyairi, Sunawi, Sri WIjayati, Fathia Jayanti, dan seterusnya, Selasa Sastra edisi kali ini juga menampilkan dua sesi diskusi buku.

Diantaranya membahas satu antologi cerpen yang berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, dan satu antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu Untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri. Kebetulan keduanya merupakan lulusan dari program Temu Karya Sastra (TKS), yang diinisiasi oleh DInas Kebudayaan (Disbud) “Kundha Kabudayan” DIY, dalam kurun lima tahun terakhir.

Ada pula satu pertunjukkan spesial dari “Duo Ordo”, yang membawakan dua buah karya musik puisi spesial di bulan Agustus. (qin)

Artikel Serupa

Ke Atas