
BANTUL – Memasuki edisi penyelenggaraan ke-17, Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) pada tahun 2026 ini akan dilangsungkan di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tepatnya di Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), pada Sabtu dan Minggu, 12-13 September 2026.
Ajang pendidikan dan kebudayaan tahunan untuk komunitas film pelajar Indonesia ini akan dihangatkan dengan berbagai acara menarik. Di antaranya Apresiasi Seni Film, Bedah Karya Film Pendek Pelajar, Sarasehan Paradigma Berfilm, Dialog Bahasa Visual, Temu Komunitas Pelajar, dan Penganugerahan Karya.
“Tahun ini FFPJ mendapatkan kesempatan baik untuk dilaksanakan di Kampus FSMR ISI Yogyakarta. Banyak dukungan yang diberikan oleh keluarga besar FSMR ISI untuk FFPJ. Semoga momen ini terus terjaga dan berkelanjutan karena pada dasarnya sejak penyelenggaraan perdana di tahun 2010 dulu FSMR ISI selalu memberikan dukungannya dalam berbagai bentuk,” kata pendiri FFPJ, yang juga alumnus FSMR ISI Yogyakarta. Tomy Widiyatno Taslim, Kamis (10/9/2026).
Partisipan yang sudah konfirmasi untuk menghadiri acara puncak berasal dari berbagai sekolah menengah tingkat atas dan daerah di Indonesia. Di antaranya Cimahi Jawa Barat, Jakarta, Mamasa Sulawesi Barat, Padang Sumatra Barat, Banjarmasin Kalimantan Selatan, Pekalongan Jawa Tengah, Pontianak Kalimantan Barat, Majenang Cilacap, Jawa Tengah, Pesawaran Lampung, Madiun Jawa Timur, Kudus Jawa Tengah, Binjai Sumatra Utara, Sukabumi Jawa Barat, Pati Jawa Tengah, dan Tulungagung Jawa Timur.
Lebih kurang ada 100 partisipan yang akan hadir ke Yogyakarta secara mandiri, untuk mengikuti festival film yang satu ini.
Selain acara Apresiasi Seni Film, beberapa narasumber ahli akan berbagi pemikiran, pengetahuan, dan pengalamannya kepada partisipan FFPJ. Di acara Bedah Karya Film Pendek Pelajar, akan dihangatkan oleh sutradara film Senoaji Julis dari Hompimpa Sinema Nusantara bersama Febfi Setyawati dan Pius Rino Pungkiawan (keduanya dosen film di FSMR ISI Yogyakarta).
Kemudian Sarasehan Paradigma Berfilm, akan dimeriahkan sutradara film BW Purba Negara, anggota Lembaga Sensor Film Indonesia Hairus Salim, dan dosen film FSMR ISI Antonius Janu Haryono. Adapun dalam Dialog Bahasa Visual tim program studi film FSMR ISI Yogyakarta akan membuka pintu seluas-luasnya untuk partisipan FFPJ agar dapat berdialog langsung secara rileks berkaitan dengan film, bahasa visual, dan sekitarnya.
Pemberian penghargaan untuk karya-karya film pendek partisipan terpilih juga akan menjadi acara yang biasanya ditunggu-tunggu di FFPJ.

Ada 4 kategori karya yang dikompetisikan secara nasional dan akan diberikan apresiasi, yakni Fiksi, Dokumenter, Eksperimental, dan Animasi. Karya-karya terpilih dinilai juri berdasarkan kedekatan dengan tema Mulat Sarira yang disajikan panitia.
Selain itu juga memiliki kekhasan dalam cerita, cara bercerita, serta aspek teknis. Saraswati Award untuk Fiksi Terbaik, Dewantara Award untuk Dokumenter Terbaik, Niskala Award untuk Eksperimental Terbaik, dan Rupagati Award untuk Animasi Terbaik akan ditetapkan di acara puncak.
Ajang kompetisi nasional dalam rangka FFPJ XVII 2026 diikuti oleh 127 karya dari berbagai sekolah di Indonesia dan terpilih 30 nomine yang diseleksi oleh curator Budi Sulistyo.
Juri kompetisi nasional berasal dari ISI Yogyakarta, yakni Deddy Setyawan, Latief Rakhman Hakim, Agni Saraswati, dan Heri Nugroho.
Acara puncak juga merupakan momen temu komunitas pelajar Indonesia yang sejak 2010 dirawat di FFPJ. Selama 2 hari, baik formal maupun informal, partisipan yang merupakan pelajar tingkat SMA dari berbagai daerah dipertemukan, difasilitasi dialog, dan berbagi perpektif bersama.
Khusus di festival tahun ke-17 ini, FFPJ akan mengajak partisipan berefleksi bersama. Ada beberapa pertanyaan pemantik yang coba ditanggapi bareng, seperti apa tujuan berpartisipasi di FFPJ, mengapa FFPJ diselenggarakan, bagaimana dinamika festival selama ini, apa substansi yang dijaga di FFPJ, adakah nilai-nilai yang terus dirawat, dan lainnya.

Seperti yang pernah disampaikan oleh panitia sebelumnya, FFPJ XVII 2026 bertema “Mulat Sarira”. Mulat sarira merupakan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta dan sering digunakan dalam tradisi Bali dan Jawa. Kata yang dekat dengannya adalah introspeksi, wawas diri, refleksi, kontemplasi, meditasi, muhasabah, bercermin, dan koreksi terhadap diri sendiri. Mulat sarira adalah sebuah tindakan perenungan kembali terhadap emosi, perasaan, pikiran, pengalaman, kelemahan, kesalahan, kekurangan, dan sekitarnya.
“Perayaan acara puncak FFPJ XVII 2026 di FSMR ISI ini kami tandai dan jalani sebagai refleksi. Selain tetap bersilaturahmi dengan berbagai pihak, belajar bersama dengan para ahli yang berkenan berbagi pengalaman, kami juga menyadari bahwa FFPJ merupakan sebuah entitas kecil. Selama ini FFPJ telah banyak didukung berbagai pihak dalam perjalanannya, termasuk FSMR ISI,” kata Tomy Widiyatno Taslim.
Sebelumnya, sejak 1 September 2026 FFPJ mengawali festival dengan melaksanakan kegiatan Sinema Silaturahmi. Tim FFPJ belajar bersama ke 4 kabupaten dan 1 kota di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Sekolah-sekolah yang disambangi SMAN 1 Temon Kulon Progo, SMAN 1 Seyegan, SMA Muhammadiyah Kasihan Bantul, SMKN 7 Yogyakarta, SMA Bumi Cendekia Yogyakarta, dan Komunitas Kedai Kopi 69 Wonosari.
Khusus di tempat terakhir, FFPJ banyak berinteraksi dengan para pelajar dari SMAN 1 Wonosari. Sinema Silaturahmi merupakan kegiatan pemutaran film dan diskusi keliling antara tanggal 1-9 September 2026 dan total melibatkan sekitar 300 pelajar aktif.
Jauh sebelumnya, rangkaian pelaksanaan FFPJ XVII sudah di mulai sejak 1 Januari 2026. Program kompetisi diselenggarakan dan dijalankan sepanjang 6 bulan sampai Juli 2026. Dalam waktu ini FFPJ melakukan sosialisasi, edukasi, pendampingan, dan lainnya, baik secara daring maupun langsung turun ke lapangan.
Kemudian sepanjang Agustus proses kurasi film dilakukan. Selanjutnya acara puncak diselenggarakan 12-13 September 2026 di Kampus FSMR ISI Yogyakarta. FFPJ XVII 2026 terlaksana selain mendapatkan bantuan dari FSMR ISI Yogyakarta, juga didukung oleh Dinas Kebudayaan DIY dan beberapa mitra lainnya. (*)

