Anda berada di
Beranda > News > Aplikasi “Literasi Negeriku” Bertekad Membenahi Peradaban Bangsa melalui Dunia Literasi

Aplikasi “Literasi Negeriku” Bertekad Membenahi Peradaban Bangsa melalui Dunia Literasi

SLEMAN – Pendidikan merupakan sebuah proses panjang yang melibatkan banyak unsur dan elemen di dalamnya, sebagai fondasi awal menuju kemajuan peradaban bangsa, serta menjamin hidup yang lebih baik dan sejahtera.

Ada pun salah satu unsur yang dapat menentukan kemajuan peradaban tersebut adalah literasi, yakni kemampuan dasar dalam membaca, menulis, memahami, serta mengolah informasi secara kritis, untuk keterampilan hidup sehari-hari.

Hal itu pula yang mendorong para dosen di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, yang berlokasi di Kalasan, Sleman, DIY, untuk membuat sebuah gerakan literasi yang diberi nama “Literasi Negeriku”.

Meski berasal dari kalangan TNI, namun gerakan ini tetap ditujukan bagi masyarakat umum, terutama kepada generasi muda, agar mampu menjadi generasi unggul di masa depan. Di mana salah satu aspek keunggulan itu terletak pada kemampuan literasinya, yang harus terus diasah sejak dini.

“Literasi yang dimiliki dan dibaca dengan baik, apa pun bentuk literasinya, yang bisa dipahami dengan baik, dan terkurasi, itu bisa mengubah mindset atau menguatkan kita dari yang awalnya sudah baik, positif, dan bagus, kemudian akan lebih baik lagi ke depan.

Karena tentunya kita cukup khawatir dengan hadirnya degradasi moral di Indonesia, atau kemunduran di beberapa aspek tertentu, yang menurut saya bersumber dari kurangnya pemahaman terhadap literasi itu sendiri,” papar founder aplikasi “Literasi Negeriku”, Kolonel Tek Dr. Ir. Ardian Infantono, S.Kom., M.Eng., CIPA., beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Ardian menambahkan, pemahaman literasi juga penting untuk dimiliki oleh para generasi muda, dalam rangka untuk lebih menghargai setiap proses pembuatan suatu karya, termasuk karya literasi itu sendiri.

Sehingga mereka tidak akan tergiur untuk melakukan cara-cara yang ilegal, seperti menjiplak (plagiasi), menyebarluaskan tanpa izin, atau mengutip tanpa menyebutkan sumber asli, dan seterusnya.

“Kalau kita mampu memahami literasi dengan baik, kita akan tahu bahwa literasi itu dibangun melalui suatu proses yang cukup panjang. Misalnya ketika membuat buku (fisik), ‘oh ternyata di balik buku itu ada ISBN-nya, ada hak ciptanya, ada kru penyuntingnya’, dan seterusnya.

Sehingga pasti buku ini sudah disiapkan dengan sangat baik, sebelum akhirnya sampai ke tangan pembaca. Dengan begitu kita ada rasa menghargai, ketika kita bisa membaca dengan baik serta memahaminya, maka kelak kita juga akan mampu mengimplementasikannya dalam perbuatan sehari-hari,” lanjutnya.

Gerakan “Literasi Negeriku” yang dikemas dalam bentuk aplikasi digital ini juga sudah hadir di beberapa event literasi yang ada di Sleman maupun provinsi DIY secara umum.

Salah satunya di pameran Jogja Book Fair 2026 dan Pameran Arsip 2026, yang berlangsung di kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, yang baru saja usai beberapa waktu lalu. (qin)

Artikel Serupa

Ke Atas