Anda berada di
Beranda > News > KNPI Bantul, ‘Menangkal Kenakalan Remaja Melalui Sastra’

KNPI Bantul, ‘Menangkal Kenakalan Remaja Melalui Sastra’

(BANTUL-SPJ) DPD KNPI Bantul menyelenggarakan serangkaian kegiatan diskusi dan penyuluhan menanggulangi kenakalan remaja di kalangan organisasi pemuda di Kabupaten Bantul, salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan Sarasehan ‘Menangkal Kenakalan Remaja dengan Kreasi Sastra’ pada hari Senin 4 April 2022 mulai pukul 16.00 wib bertempat di sekretariat DPD KNPI Bantul, kompleks Balai Dikmen Kabupaten Bantul, kegiatan berlangsung berbarengan dengan buka puasa bersama dilanjut diskusi hingga menjelang isya’.

Menurut Farid Hadiyanto SE, Ketua KNPI Bantul mengatakan bahwa rangkain kegiatan dilangsungkan dengan menggandeng berbagai organisasi kemasyarakatan pemuda jejaring yang ada di KNPI Bantul.

“Ada beberapa catatan mengenai problematikan generasi muda saat ini, seperti siswa yang terpengaruh psikologisnya selama pandemi sekolah daring. juga ada pernikahan dan kehamilan dini, adanya kasus kekerasan dan kematian akibat ‘klitih’. kriminalitas banyak melibatkan anak muda, sehingga KNPI merasa sangat perlu untuk menjalin komunikasi dan relasi antar jejaring organisasi kepemudaan yang ada di Bantul,’ ungkap Farid.

Setidaknya ada 23 kegiatan yang diselenggarakan KNPI Bantul sejak raker pengurus pada awal maret 2022. melalui jejaring OKP di jejaring AMM, GMNU, Kekaryaan, sayap kepartaian dan organisasi independent lainnya seperti Imaba dan lain-lain.

Khususnya untuk pelajar dan mahasiswa di Bantul yang menyukai sastra, melalui komunitas #selasassastra, KNPI Bantul menyelenggarakan Sarasehan Sastra dengan tema kenakalan remaja, menghadirkan narasumber utama Satmoko Budi Santoso, penulis nasional yang tinggal di Bantul, juga Nunung Deni Puspitasari (aktris) serta dimeriahkan penampilan pembacaan karya sastra Rizal dan Khanza dari KomaTera (KOmunitas Teater Remaja Bantul), acara dihosti oleh Bang Tedi Way pegiat media online (sosisal media, media online dan youtube).

Dalam pemaparannya, Satmoko Budi Santoso mengungkapkan salah satu fusngsinya untuk mengungkapkan pengalaman dikemas dalam imajinasi kisah untuk menyampaikan pesan-pesan yang baik bagi para pembaca.

“Sastra bisa menjadi jalan pemecahan masalah jika kita sedang buntu, misalnya marah, ingin menasehati, sedih atas peristiwa di sekitar penulis, untuk dikemas menjadi memiliki nilai humanisme dan artistik,” ungkap Satmoko.

Menurutnya, ide cerita bisa berasal dari pergulatan kehidupan sehari-hari di sekolah, rumah, lingkungan sekitar penulis. Termasuk penulis bisa turut serta menyumbangkan pemikiran melalui tulisan mengenai persoalan kenakalan remaja, seperti ‘klitih’ bisa jadi isnpirasi tulisan baik cerpen atau puisi, bahkan novel.

“Penulis bisa membuat sumbangsih positif mengenai hal itu, paling problem utamanya adalah memulai menulisnya, saran saya harus banyak belajar dan berlatih, menulis dan membaca adalah hal penting, komunitas seperti #selasassatra dan suarapemudajogja.com bisa menjadi tempat berlatih,” kata Satmoko.

Kegiatan diikuti oleh pelajar dan mahasiswa di Bantul yang menyukai dunia sastra, setidaknya ada 30 peserta yang mengikuti kegiatan ini. Bening, salah satu pelajar SMAN 2 Bantul sebagai peserta mengungkapkan dirinya senanag ada acara seperti ini, jika memungkinkan secara rutin diselenggarakan misalnya setiap bulan.

“Kalo bisa ada lagi, selain utnuk mengakrabkan diri antar peserta, juga bisa untuk mengasah kepenulisan, serta mencari pengetahuan dari narasumber,” kata Bening. Bening sendiri berharap kedepan ada tindak lanjut kegiatan ini baik yang difasilitasi KNPI Bantul atau diselenggarkan secara mandiri. (RYN)

Artikel Serupa

Ke Atas