
BANTUL – Perhelatan Selasa Sastra pada awal tahun 2026 yang berlangsung di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026) ditandai sebagai salah satu momen yang bersejarah bagi R. Toto Sugiharto, seorang Sastrawan sekaligus Penulis buku. Karena pada hari itu, ia resmi meluncurkan novel terbarunya berjudul “Owel”.
Novel ini pun dikupas tuntas dalam Selasa Sastra bertajuk “Harapan Besar Dalam Bersastra”, dengan menghadirkan R. Toto Sugiharto sendiri sebagai narasumber, ditemani oleh jurnalis Kukuh Setyono sebagai pembedah, serta Redaktur Senior Senerai Ide Bangsa, Mariska Puspita Ningrum.
R. Toto Sugiharto menyampaikan bahwa cerita novel Owel sebenarnya adalah salah satu hasil karya yang dilombakan pada tahun 2005 silam. Bahkan novel ini meraih prestasi gemilang yakni juara 3 dari total enam pemenang.
“Panitia saat itu hanya mencetak untuk karya novel yang mendapat juara satu, tapi akhirnya malah bubar juga,” kata Toto, Selasa (6/1/2026).
Suatu ketika Toto pun bertemu dengan penerbit Senarai Ide Bangsa, dan berinisiatif untuk menerbitkan naskah tersebut untuk pertama kalinya pada Desember 2025 lalu, alias 20 tahun sejak keikutsertaannya pada lomba yang diselenggarakan oleh Pemerintah kabupaten Bantul saat itu.
Toto bahkan merasa ikut bertanggungjawab, apabila naskah Owel ini kemudian tidak sampai diterbitkan dalam bentuk buku fisik. Apalagi jika mengingat kerja keras panitia lomba pada saat itu.
Novel Owel sendiri menceritakan tentang tokoh yang lahir dan besar di pesisir selatan Bantul. Di sana ia terus-menerus menghadapi konflik tentang proses pencarian jati diri, gejolak terhadap tradisi setempat, serta pengalaman spiritual yang mengakar kuat. Toto turut melakukan riset di lokasi dengan menyambangi pantai dari Pandansimo hingga Parangkusumo.
Sementara Jurnalis Kukuh Setyono menyampaikan bahwa novel Owel mampu meramalkan perkembangan teknologi informasi sekaligus pertumbuhan ekonomi baru yang terjadi di wilayah Kretek, Sanden, dan Srandakan. Sekalipun itu sudah ditulis 20 tahun yang lalu.
Selain itu, Kukuh menilai kisah novel Owel merupakan literasi yang sangat penting, karena telah mendokumentasikan wajah Bantul selatan medio tahun 2000-an silam.
Senada dengan Kukuh Setyono, Redaktur Senior Senerai Ide Bangsa, Mariska Puspita Ningrum menganggap bahwa buku ini masih sangat relevan bagi para Gen Z atau generasi muda, karena tokoh yang ditampilkan juga merupakan generasi muda yang sarat akan pencarian jati diri ke berbagai tempat yang bisa dikatakan tidak lazim.
Buku ini dapat diperoleh di beberapa marketplace terkemuka dengan harga Rp54.000,-. (qin)

