
MAGELANG, SPJ – Wilayah Gunung Merbabu memegang peran penting sebagai kawasan konservasi dan daerah pengumpul air yang mendukung kebutuhan air bersih masyarakat di sekitarnya. Namun, tekanan terhadap lingkungan serta penurunan tutupan vegetasi telah menjadi tantangan yang cukup signifikan dalam menjaga kelangsungan ekosistem dan sumber air di wilayah tersebut.
Sebagai bentuk perhatian terhadap lingkungan, PT Sampah dan Harapan Indonesia bekerja sama dengan Desbin HMTG dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Instellar, dan instansi lainnya dalam rangka program Capital Catalyst Ecosystem oleh Goto mengadakan kegiatan penanaman pohon bernama “Ngrumat Merbabu” di Kawasan Konservasi Merbabu. Kegiatan tersebut berlangsung di tiga desa yaitu Kapuhan, Wolunggunung, dan Batur dengan total pohon yang ditanam mencapai 1.500 batang, Senin (22/12/2025).
Program ini dirancang sebagai upaya rehabilitasi lingkungan dan memperkuat fungsi Kawasan Konservasi Merbabu sebagai daerah pengumpul air. Penanaman pohon dilakukan secara bersama-sama, melibatkan berbagai pihak termasuk masyarakat setempat, sebagai bentuk pembagian tanggung jawab dalam menjaga alam. Acara diawali dengan pembukaan secara seremonial di Kopi & Teh Janissary, dilanjutkan dengan penanaman secara bersama di kawasan konservasi Merbabu.
“Salah satu fokus penanaman pohon di kawasan konservasi adalah sekitar sumber air, untuk meningkatkan kapasitas tanah menyerap air serta memastikan tersedianya air bersih secara terus-menerus bagi masyarakat setempat,” kata salah satu pengelola acara.
Fokus pada Konservasi Sumber Air
Penanaman pohon di Kawasan Konservasi Merbabu berfokus di Desa Batur, khususnya sekitar sumber air atau tuk yang telah digunakan oleh masyarakat setempat. Lokasi ini dipilih karena peran strategisnya dalam menyediakan air bersih bagi penduduk sekitar, sehingga perlu dipertahankan melalui perbaikan tutupan vegetasi.
Di Kawasan Konservasi Merbabu, sebanyak 650 batang pohon ditanam dengan spesies endemik seperti puspa, aren, dan beringin. Jenis pohon ini dipilih karena kemampuannya yang baik dalam menjaga stabilitas tanah serta mendukung fungsi penyerapan air.
Kerja Sama antara Mahasiswa dan Masyarakat
Acara “Ngrumat Merbabu” dihadiri oleh 35 volunteer yang terdiri dari mahasiswa geologi UGM dan beberapa warga setempat. Selain itu, perwakilan dari Taman Nasional Merbabu juga turut serta sebagai bentuk dukungan dalam upaya konservasi.
Keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini diharapkan mampu memupuk kesadaran kolektif pentingnya menjaga kawasan konservasi dan sumber daya air. Pihak penyelenggara percaya bahwa kolaborasi antara sektor usaha, akademisi, pemerintah, serta masyarakat setempat merupakan langkah penting dalam mencapai preservasi lingkungan secara berkelanjutan di wilayah Gunung Merbabu. (qin)

