Anda berada di
Beranda > News > Tradisi Patok Lele Sanggup Membentuk Karakter Generasi Muda di Bidang Bahasa dan Sains

Tradisi Patok Lele Sanggup Membentuk Karakter Generasi Muda di Bidang Bahasa dan Sains

Praktik tradisi Patok Lele bagi generasi muda (Foto: istimewa)

YOGYAKARTA – Anak-anak dari Komunitas BMW 10i memenuhi Ruang Terbuka Hijau di Taman Kehati dengan semangat belajar untuk mengisi waktu luang di akhir pekan.

Mereka pun diperkenalkan kembali tentang tradisi Patok Lele, sebagai salah satu tradisi yang nyaris hilang di kawasan perkotaan, akibat banyaknya aktivitas manusia yang semakin mengandalkan teknologi akhir-akhir ini.

Tradisi ini bertransformasi menjadi media literasi bilingual dan karakter Tamansiswa, melalui program Abdimas berbasis VISTA (Visionary Insights for Student Transformation and Achievement).

Pada Sabtu pagi dan Minggu sore (16-17 Mei 2026) mereka beraktivitas dengan pola Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dan Tri-Nga (Ngerti, Ngrasa, Nglakoni), yang dipadukan dengan dimensi VISTA: Visionary yaitu menumbuhkan kreativitas lewat denah lapangan dan revitalisasi budaya.

Lalu Insights adalah melatih literasi bilingual serta sportivitas melalui instruksi permainan, Student Transformation artinya mengasah numerasi dan sains kontekstual saat menghitung skor dan menjelaskan gaya–momentum, Taman Integration yakni dengan menanamkan karakter Tetep–Antep–Mantep, melalui peran wasit dan pencatat skor, serta Achievement yang mampu menghasilkan luaran kreatif berupa menuliskan refleksi pengalaman dalam bentuk cerita dan komik strip berbahasa Inggris dan Indonesia.

Tiga dosen yang terlibat dalam tradisi ini pun turut memberikan pandangan akademiknya masing-masing.

Luky Tiasari menegaskan bahwa belajar bahasa Inggris bisa tumbuh dari pengalaman bermain, dimana anak-anak mampu membangun kosakata sambil berlari dan tertawa, bukan dari hafalan kaku semata.

Aktivitas itu sekaligus mentransformasi pengalaman konkret menjadi ekspresi linguistik baru, sehingga bahasa berfungsi sebagai sarana perubahan cara berpikir.

Sementara bagi Shanta Rezkita, tradisi bahwa Patok Lele mengajarkan konsep gaya dan momentum secara kontekstual, sehingga sains dpat dipahami dari praktik dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya teori abstrak.

Di saat yang sama, Rr. Hasti Robiasih menekankan bahwa nilai TAMan: Tetep, Antep, Mantep benar-benar hidup dari tradisi yang satu ini, anak-anak bisa belajar tentang konsistensi, keberanian, dan kepercayaan diri melalui peran sebagai wasit, pencatat skor, sekaligus pemain untuk permainan yang sama.

Beberapa mahasiswa pendamping (Nanda, Azizah, dan Arifin) juga menyampaikan bahwa awalnya anak-anak ragu untuk menulis instruksi dalam bahasa Inggris, tetapi setelah dipraktikkan dalam bentuk permainan, mereka pun jadi lebih percaya diri. Dukungan masyarakat setempat juga ikut menguatkan mereka.

Mereka pun bangga dengan tradisi Patok Lele, yang mampu dihidupkan kembali di tengah modernitas masyarakat yang lebih suka “nunduk” (bermain hape), sekaligus menjadi sarana belajar bahasa dan sains yang efektif dan mudah dipahami.

Program ini juga membuktikan bahwa Abdimas Patok Lele berbasis VISTA bukan sekadar permainan, melainkan juga memberikan dampak inovasi pendidikan berbasis budaya lokal yang mampu menumbuhkan literasi bilingual, numerasi, IPA, dan karakter Tamansiswa.

Melalui dukungan dosen, mahasiswa, dan masyarakat setempat, kegiatan ini menjadi contoh nyata transformasi tradisi menuju pembelajaran modern, yang tetap relevan dengan arah pendidikan digital dan keterampilan abad ke‑21. (qin)

Artikel Serupa

Ke Atas