
YOGYAKARTA – Sebagai minuman tradisional yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tentu saja jamu lebih identik dengan minuman pencegah berbagai penyakit degeneratif, terutama bagi orang-orang tua atau yang sudah sepuh.
Namun di zaman yang serba canggih seperti sekarang, anak-anak muda seolah enggan untuk ikut mengkonsumsi jamu seperti para pendahulunya, dan lebih memilih minuman kekinian lain yang memiliki warna dan rasa yang lebih menarik. Sementara jamu sendiri terkenal dengan rasanya yang pahit dan asam, lantaran berasal dari bahan-bahan alami seperti kencur, kunyit, temulawak, jahe, dan seterusnya.
Namun siapa sangka, ternyata jamu juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, serta mampu dikemas dengan cara yang kekinian, sehingga lebih mudah diterima oleh generasi muda atau Gen Z.
Hal ini terbukti dengan hadirnya Festival Nitilaku Jamu 2026, yang berlangsung di Bale Gadeng, Gondokusuman, Yogyakarta, Rabu (11/2/2026). Dalam festival yang diikuti oleh lebih dari 20 tenant di wilayah DIY ini, beberapa diantaranya turut menjual jamu dalam bentuk yang lebih modern, praktis, dan mudah dibawa atau dimasukkan ke dalam saku.
Salah satu pedagang yang mengikuti Festival Nitilaku Jamu 2026, Fendy Ahmad, mengaku bahwa saat ini keberadaan jamu sudah mulai diterima oleh masyarakat luas, termasuk para generasi muda.
“Anak-anak muda banyak juga yang tertarik dengan jamu ini, salah satunya adalah Kombucha jamu, yang juga sudah dipasarkan di Kantin UGM, dimana dalam seminggu bisa laku belasan hingga dua puluhan botol,” ucap Ahmad, sapaan akrabnya, saat ditemui di acara Festival Nitilaku Jamu di Bale Gadeng, Rabu (11/2/2026).
Ahmad yang mulai menjual jamu dan obat-obatan herbal lainnya sejak 2010 silam, merasa bahwa perkembangan jamu sudah menuju ke arah yang lebih baik. Karena masyarakat mulai sadar untuk mengkonsumsi minuman sehat yang mampu mencegah berbagai penyakit.
“Dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang, sudah banyak orang yang mulai memesan jamu via online, entah itu dari marketplace maupun media sosial,” tambah Ahmad.
Ahmad sendiri tergerak untuk berjualan jamu dan produk herbal, setelah ia merasakan pusing di kepalanya belasan tahun silam. Alih-alih mengkonsumsi obat-obatan kimia, ia pun lebih memilih mengkonsumsi jamu sebagai sarana penyembuhan.
Alhasil ia pun sembuh, dan berniat menularkan “kisah sukses”-nya kepada para konsumennya, agar bisa memiliki hidup yang lebih sehat, salah satunya dengan menjadikan jamu sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari. (qin)

