
BANTUL – Pendidikan Pancasila seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang penuh hafalan dan membosankan.
Namun, kesan tersebut seolah sirna di tangan para mahasiswa Pembelajaran Luar Kampus dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bertajuk Adyaswara Mengabdi 2026.
Melalui pendekatan Fun Learning, mereka menghadirkan metode pembelajaran PPKN bagi anak-anak di Padukuhan Jetis pada Sabtu (11/4/2026).
Adyaswara Mengabdi memanfaatkan berbagai media pembelajaran edukatif seperti norma card, kartu kuartet, dan menyanyikan lagu yang berisi materi Pendidikan Pancasila, yang penggunaannya disesuaikan dengan jenjang kelas anak-anak, untuk menanamkan nilai karakter bangsa, dan mengajarkan materi Pendidikan Pancasila tanpa rasa bosan kepada anak-anak.
Program kerja ini bukan sekadar permainan edukatif, melainkan implementasi nyata dari agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas) yang diwujudkan dengan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan efektif dengan metode fun learning dan SDGs Poin 16 (Perdamaian dan Kelembagaan yang Tangguh), yaitu dengan menanamkan pemahaman tentang harmoni, toleransi, dan hak kewajiban sejak dini, demi terciptanya masyarakat Jetis yang damai di masa depan.
Suasana belajar yang menyenangkan di posko PLK membuat anak-anak berani mengemukakan pendapat serta bertanya.
Tidak ada lagi rasa takut salah, yang ada hanyalah semangat untuk menyelesaikan permainan edukatif menggunakan media pembelajaran yang telah disediakan.
Kegiatan ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok norma card, kartu kuartet, dan lembar garuda.
Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari anak-anak Padukuhan Jetis. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme dan kedatangan puluhan anak-anak yang sangat bersemangat saat kegiatan berlangsung.
“PKN jadi seru, Mbak, aku nggak bosen lagi dan jadi mudah faham” ujar salah satu anak.
Melalui langkah kecil ini, mahasiswa PLK UNY 2026 berharap dapat mengubah stigma belajar Pendidikan Pancasila, yang sering dianggap membosankan, dan menjadi jembatan pembentukan karakter generasi muda Jetis sejak dini yang literat, toleran, dan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. (qin)

