
YOGYAKARTA – Banyaknya peperangan terjadi di hampir seluruh dunia, baik itu di Afrika, Eropa, Amerika Latin, termasuk juga Asia dan Asia Tenggara, membuat dunia ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Semua itu menjadi bukti terbentuknya zaman liberalisme secara modern, akibat keinginan untuk memperoleh kekuasaan, dan kepentingan terselubung lainnya.
Hal itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah dialami oleh Pangeran Diponegoro ratusan tahun yang lalu, karena pada saat itu ia juga harus berjuang menghadapi kolonialisme Belanda, yang sedang menguasai wilayah Indonesia.
Perjuangan Diponegoro itu pun ditandai dengan Peringatan Haul ke-171 Pangeran Dipoenegoro yang diselenggarakan di Ndalem Pendopo Tegalrejo, Monumen Diponegoro Sasana Wiratama Yogyakarta, Kamis (8/1/2026).
Mengusung tema “Merajut Silaturrahmi Dalam Warisan Perjuangan”, Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) selaku pelaksana kegiatan ini mengungkapkan bahwa momen haul ini menjadi wadah silaturrahmi yang tepat, untuk bisa merekatkan kembali tali persaudaraan antar generasi, keluarga, maupun komponen bangsa.
“Acara ini merupakan wadah yang sangat baik, untuk bisa menyerap dan mengaplikasikan kembali semangat juang dan perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap segala bentuk kedzaliman, sekaligus mewariskan nilai-nilai keberanian dan pengorbanan demi martabat bangsa. Nilai-nilai inilah yang sangat kita butuhkan untuk menghadapi segala tantangan di zaman modern,” ucap Ketua Patra Padi Raden Syaiful Ahmad dalam sambutannya, Kamis (8/1/2026).
Menurut Syaiful Ahmad, semangat perjuangan inilah yang perlu menjadi teladan bagi para penerusnya, termasuk generasi muda saat ini, yang semakin tergerus oleh kecanggihan teknologi, dan tingkat individualisme yang semakin tinggi.
Senada dengan Ketua Patra Padi, Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono. yang turut hadir dalam peringatan haul tersebut, mengatakan bahwa Indonesia butuh tokoh panutan seperti Pangeran Diponegoro, yang mampu merekatkan persatuan bangsa, di tengah masa penjajahan pada saat itu.
“Kita butuh panutan yang bisa diteladani di zaman modern saat ini, dan panutan tersebut ada pada sosok Diponegoro, agar bangsa ini bisa kembali punya jiwa dan semangat nasionalisme yang kuat, di tengah liberalisme yang kian menjadi-jadi,” ujar Agus pada kesempatan yang sama. (qin)

