
BANTUL – Kualitas pengabdian masyarakat dari mahasiswa tidak harus diukur dari durasi waktu pelaksanaan, namun lebih menitikberatkan pada dampak dan makna yang mampu ditinggalkan (warisan).
Pengalaman inilah yang dirasakan mahasiswa KKN PKM-SK Universitas PGRI Yogyakarta Kelompok 10, selama menjalankan program pengabdian di Padukuhan Cungkuk, Kelurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Bantul.
Meskipun KKN ini hanya berlangsung selama tiga minggu, dan dilakukan selama masa transisi perkuliahan semester lima menuju ke semester enam, kehadiran mahasiswa di wilayah tersebut mampu memberikan energi baru bagi masyarakat setempat, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga.
Secara umum, program pengabdian difokuskan pada upaya menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi KWT Kenanga. Terutama dalam pengelolaan administrasi kelompok, dan pengembangan pemasaran berbasis digital.
Melalui workshop yang berlangsung selama dua hari, mahasiswa mendampingi anggota KWT dalam membuat serta mengelola akun media sosial seperti Instagram dan Facebook, sekaligus memperkenalkan penggunaan marketplace Shopee, sebagai sarana memperluas pemasaran produk lokal.
Pendampingan ini menjadi relevan bagi para anggota KWT Kenanga, untuk dapat merespon perubahan perilaku konsumen di zaman sekarang, yang saat ini lebih memilih bertransaksi secara digital.
Selain penguatan di bidang pemasaran, mahasiswa juga memberikan pelatihan perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP). Materi ini membantu anggota kelompok menentukan harga jual secara lebih rasional dan berkelanjutan, terutama ketika harga bahan baku kerap mengalami perubahan. Bagi sebagian anggota KWT, keterampilan tersebut menjadi bekal penting untuk menjaga stabilitas usaha rumahan yang mereka jalankan sehari-hari.
Kegiatan pengabdian ini tidak terbatas pada pelatihan formal semata. Para mahasiswa KKN juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas keseharian kelompok masyarakat setempat. Mulai dari proses produksi sambal pecel dan brambang goreng, penataan administrasi, hingga membantu mengaktifkan kembali lahan KWT, yang sebelumnya sempat tidak terkelola dengan baik. Interaksi yang berlangsung setiap hari perlahan membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dengan warga di Padukuhan Cungkuk.
Perpisahan yang Mengharukan

Rangkaian kegiatan pun ditutup dengan senam bersama dan pembagian doorprize pada pekan terakhir. Suasana kebersamaan yang awalnya penuh keceriaan, lantas berubah menjadi penuh haru dan kesedihan, ketika momen perpisahan tiba.
Sejumlah anggota KWT tampak menitikkan air mata, saat menyampaikan rasa terima kasih atas kebersamaan yang terjalin selama program berlangsung.
Sebagai bentuk apresiasi, warga secara spontan menyanyikan lagu perpisahan yang menciptakan suasana emosional bagi semua orang yang hadir. Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi pengingat, bahwa pengabdian masyarakat tidak sekadar pelaksanaan program kerja, tetapi juga tentang relasi kemanusiaan, yang tumbuh melalui kebersamaan dan kepedulian.
Salah satu anggota KWT mengungkapkan, kehadiran mahasiswa KKN UPY mampu membawa semangat baru bagi kelompok mereka. Meski singkat, kebersamaan yang terjalin tetap terasa seperti hubungan keluarga.
KKN sebagai Ruang Belajar Sosial

Pengalaman di Padukuhan Cungkuk menunjukkan bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya kewajiban akademik atau pemenuhan beban studi, melainkan ruang pembelajaran sosial yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas kehidupan masyarakat secara langsung.
Di lapangan, mahasiswa menyadari bahwa berbagai tantangan ekonomi masyarakat sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kemauan, melainkan keterbatasan akses informasi, pendampingan, dan rasa percaya diri dalam menghadapi perubahan zaman.
Pendampingan sederhana, seperti membantu pengelolaan administrasi atau mengenalkan pemasaran digital, dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian kelompok masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa juga memperoleh pelajaran berharga tentang nilai gotong royong, kesederhanaan, serta ketangguhan masyarakat desa dalam menghadapi keterbatasan.
Jejak pengabdian mungkin tidak terlihat besar secara kasat mata,. Namun, semangat baru yang tumbuh bersama KWT Kenanga, yang kini kembali aktif dan produktif, menjadi bukti bahwa perubahan sosial sering kali berawal dari langkah kecil, yang dilakukan secara kolektif dan konsisten.
Pada akhirnya, KKN tidak hanya berbicara tentang kontribusi mahasiswa kepada masyarakat, tetapi juga tentang pembelajaran yang diterima mahasiswa dari masyarakat. Diantaranya empati, kebersamaan, dan kepedulian. Ketiganya merupakan fondasi utama dalam membangun perubahan yang berkelanjutan sekaligus konsisten. (qin)

