Anda berada di
Beranda > Guratan Akademisi > Saatnya Hardiknas 2026, Saatnya Membaca Kembali Ki Hajar Dewantara

Saatnya Hardiknas 2026, Saatnya Membaca Kembali Ki Hajar Dewantara

YOGYAKARTA – Setiap Hari Pendidikan Nasional, nama Ki Hajar Dewantara akan selalu terbayang dalam ingatan seluruh insan pendidikan di Indonesia.

Semboyannya selalu diulang, fotonya selalu ditampilkan, dan gagasannya pun selalu dirujuk kembali oleh para penerusnya. Namun di tengah semua itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: Apakah kita sungguh memahami arah pendidikan yang ia maksud, atau hanya merawat simbol tanpa menyentuh substansinya?

Ki Hajar Dewantara tidak memulai pendidikan dari sistem kurikulum, apalagi teknologi. Ia memulai dari pertanyaan paling mendasar, manusia seperti apa yang ingin dibentuk melalui pendidikan?

Dalam pandangannya, pendidikan bukan sekadar proses mengajarkan ilmu, melainkan upaya menuntun tumbuhnya manusia agar mampu hidup sebagai pribadi yang merdeka.

Ia dengan tegas menyebut bahwa pendidikan nasional adalah jawaban atas kebutuhan anak-anak Indonesia. Artinya, pendidikan harus berakar pada realitas sosial dan kebudayaan sendiri, bukan sekadar meniru sistem dari luar.

Dalam konteks penjajahan, gagasan ini adalah bentuk perlawanan. Sedangkan dalam konteks hari ini, ia menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak boleh menghilangkan jati diri.

Di tengah arus globalisasi dan percepatan teknologi, pendidikan kita justru semakin kehilangan arah. Kita cepat mengadopsi metode baru, memperkenalkan istilah baru, tetapi belum tentu memahami tujuan akhir dari metode tersebut. Akibatnya, pendidikan berjalan seperti proyek yang terus diperbarui, tanpa pernah benar-benar selesai.

Sedangkan di masa lalu, Ki Hajar menawarkan sesuatu yang lebih sederhana sekaligus mendalam. Ia menyatakan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang berjiwa merdeka. Dalam praktik di perguruan Taman Siswa, pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan kemandirian. Bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Jika ditarik ke kondisi pendidikan hari ini, pertanyaan itu menjadi terasa relevan. Apakah sistem pendidikan kita sudah mampu melahirkan manusia yang merdeka dalam berpikir, atau justru menciptakan generasi yang terbiasa menunggu arahan, takut salah, dan terlalu bergantung pada standar?

Kecenderungan pendidikan kita hari ini masih terlalu kuat pada penyeragaman. Semua siswa diperlakukan sama, diuji dengan cara yang sama, dan dinilai dengan ukuran yang sama. Padahal Ki Hajar melihat manusia sebagai individu yang memiliki kodrat dan potensi yang berbeda. Karena pendidikan (yang baik) seharusnya menuntun, bukan menyeragamkan.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Ada tiga pusat pendidikan yang saling terkait: keluarga, perguruan, dan lingkungan pemuda. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam membentuk budi pekerti. Sekolah mengembangkan kecerdasan, sementara lingkungan sosial memperkuat pengalaman hidup.

Meskipun sudah diucapkan puluhan tahun silam, pandangan ini masih terasa sangat relevan sampai hari ini. Banyak persoalan pendidikan muncul karena ketiga unsur itu berjalan sendiri-sendiri. Sekolah dibebani terlalu banyak, keluarga semakin menjauh dari proses pendidikan, dan lingkungan sosial sering tidak mendukung. Akibatnya, pendidikan pun kehilangan kesinambungan.

Ki Hajar pun tidak memisahkan antara kecerdasan dan karakter. Ia justru menempatkan budi pekerti sebagai fondasi utama. Pendidikan yang hanya mengejar pengetahuan tanpa membentuk sikap hidup pada akhirnya melahirkan manusia yang cerdas tetapi rapuh.

Dalam kehidupan pribadinya, Ki Hajar juga memberi teladan. Ia menanggalkan gelar kebangsawanannya agar dapat menyatu dengan rakyat. Pilihan ini bukan sekadar simbol, tetapi menunjukkan bahwa pendidikan selalu berkaitan dengan keberpihakan. Ia berpihak pada upaya memanusiakan manusia, bukan mempertahankan jarak sosial.

Di titik ini, refleksi menjadi penting. Pendidikan tidak bisa hanya dilihat sebagai kebijakan atau program. Ia adalah proses membentuk masa depan bangsa. Ketika akses pendidikan masih timpang dan kualitas belum merata, maka cita cita pendidikan nasional masih jauh dari kata selesai.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang untuk bertanya lebih dalam. Bukan hanya apa yang sudah dilakukan, tetapi ke mana arah pendidikan ini dibawa. Ki Hajar Dewantara sudah memberikan fondasi yang jelas, bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan manusia.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah gagasan itu masih relevan. Yang lebih penting adalah apakah kita masih mau berjalan di jalur yang telah ia tunjukkan, atau justru semakin menjauh tanpa sadar.

Opini ditulis oleh Bimo Andono, S.H., S.E., M.M., Anggota Kajian Strategis dan Pengembangan Riset Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB)

Artikel Serupa

Ke Atas