Anda berada di
Beranda > News > Mengapa Seni Cukil Kayu Tidak Setenar Seni Lukis Kontemporer?

Mengapa Seni Cukil Kayu Tidak Setenar Seni Lukis Kontemporer?

Kumpulan lukisan cukil kayu karya Syahrizal Pahlevi (Foto: Azka Qintory)

BANTUL – Dalam dunia seni lukis, sebuah lukisan bisa dihargai dengan sangat mahal, lantaran memiliki nilai seni (estetika) yang tinggi, keunikan/kelangkaan (originalitas), reputasi seniman yang cukup mentereng, serta nilai sejarah atau emosional yang mendalam.

Salah satu yang cukup menjadi perbincangan publik, adalah ketika mantan presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berhasil menjual lukisannya yang berjudul Mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berhasil menjual lukisannya yang berjudul “Kuat dan Energik Laksana Kuda Api” seharga Rp6,5 miliar, dalam sebuah lelang amal pada Perayaan Imlek Demokrat, pada Februari 2026 lalu.

Di saat yang bersamaan, masih ada jenis-jenis seni lukis lainnya, yang masih kurang mendapat perhatian, apalagi jika dibeli dengan harga miliaran seperti yang dialami oleh SBY.

Salah satunya adalah seni lukis menggunakan cukil kayu (woodcut).

Meskipun memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi, namun nyatanya jenis seni lukis yang satu ini justru belum begitu menarik para konglomerat di luar sana, untuk berinvestasi atau membelanjakan uangnya, sebagai bentuk apresiasi atas karya yang telah dihasilkan.

Padahal jika ditelisik lebih jauh, tidak ada perbedaan mencolok antara seni lukis kontemporer dengan seni lukis dengan cukil kayu. Keduanya memiliki kebebasan berekspresi yang tinggi, fokus pada penyampaian ide atau konsep, dan tidak terikat pada pakem artistik tradisional tertentu.

Syahrizal Pahlevi saat menjelaskan lukisannya yang terbuat dari cukil kayu (Foto: Azka Qintory)

Bagi seorang Syahrizal Pahlevi, seniman yang fokus di bidang lukis cukil kayu, hal itu merupakan selera setiap individu, yang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti popularitas pelukis, acara yang diikuti, maupun siapa saja yang dilibatkan di dalam project tersebut.

“Persoalan seni rupa itu sederhana, apakah visual itu punya impact (dampak) terhadap audiens-nya, termasuk cerita-ceritanya. Dan saya pikir seni cukil kayu belum mampu meng-impact hal tersebut kepada audiens,” ucap Pahlevi saat ditemui dalam Pameran Lukis Cukil Kayu “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)”, yang berlangsung di Museum Dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026).

Pahlevi pun hanya berusaha untuk sekadar berkarya, dan tidak terlalu memusingkan soal kurangnya minat masyarakat terhadap seni cukil kayu.

“Tentunya saya juga berusaha mempromosikan seni cukil kayu ini, baik dengan saya sendiri atau melalui rekanan, untuk membantu ini (mempromosikan seni cukil kayu),” tambah Pahlevi.

Sementara di kesempatan yang sama, Rain Rosidi, penulis pameran cukil kayu tersebut, mengaku bahwa nilai ekonomi memang menjadi salah satu faktor penting, dalam pembuatan sebuah karya lukis, meskipun bukan satu-satunya patokan. Hanya saja, tidak sepantasnya sebuah lukisan hanya dinilai berdasarkan nilai ekonominya saja, tanpa melihat aspek-aspek lain, yang sebetulnya juga tidak kalah penting.

“Sayangnya memang isu lukisan berjual mahal (seperti lukisan SBY) itu terasa lebih menarik, ketimbang isu nilai dari lukisan itu terhadap seni dan budaya. Akhirnya yang terjadi orang hanya berusaha menjual lukisan itu semahal mungkin, tanpa mempertimbangkan esensi atau makna dari lukisan tersebut,” ujar Rain.

Keduanya berharap, lukisan cukil kayu seperti yang dipamerkan di MDTL ini, dapat diapresiasi setinggi-tingginya oleh masyarakat, tidak harus dari kalangan pencinta seni.

Karena pada dasarnya, seni (termasuk seni lukis menggunakan cukil kayu) adalah milik siapa saja, dan layak mendapat apresiasi yang setimpal, atas proses kerja rumit dan berkualitas tinggi yang telah dihasilkan. (qin)

Artikel Serupa

Ke Atas