Anda berada di
Beranda > News > Setya Amrih Prasaja; ‘Hapus Stigma Negatif Keris!’ : https://youtu.be/UGjEjYoRj6c

Setya Amrih Prasaja; ‘Hapus Stigma Negatif Keris!’ : https://youtu.be/UGjEjYoRj6c

BANTUL – SPJ – Kebanyakan masyarakat di Yogyakarta jika kita datangi ke rumahnya, kemudian kita tanyakan, apakah mereka mengoleksi keris? Maka jawaban terbanyak pastilah tidak lagi memiliki keris. Jika ditanyakan leih lanjut kapan terakhir memiliki keris, pastilah kebanyakan mereka akan menjawab kakek-nenek mereka yang pernah memilikinya, bagi yang sudah tergolong usia tua, bapak-ibu, barangkali akan memberikan jawaban bahwa keris saat ini terbatas bagi orang-orang tertentu, seperti pejabat atau mungkin ‘orang tua’. Keris pada akhirnya terstigma negatif sebagai benda pusaka khusus yang hanya dimiliki orang-orang tertentu.

Padahal tidak demikian, menurut Setya Amrih Prasaja, Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, yang saat ini dirumahknya mengoleksi tujuh bilah keris dan dua tombak pusaka. Meskipun mulanya ia tidak bermaksud mengoleksi, tetapi pada akhirnya panggilan jiwa untuk melestarikan tradisi peninggalan leluhur itu dilakukannya.

“Setiap masyarakat memiliki benda pusakanya sendiri-sendiri, misalnya masyarakat Jepang dengan katana-nya, yang kita sebut samurai, ada yang berpusaka tombak, panah, dan mungkin orang Eropa dan Amerika memilih pusaka berupa pistol alias senjata api. Keris merupakan pusaka perlindungan diri bagi masyarakat Yogyakarta khususnya. Selain untuk melindungi diri, keris menjadi sebuah identitas budaya masyarakat Yogyakarta,” kata Amrih (1/8/2022) untuk Majalah Mentaok Edisi 02/2022 https://youtu.be/UGjEjYoRj6c.

Dalam pandangan Amrih, saat ini terjadi pergeseran makna pandangan masyarakat terhadap keris, cenderung negatif karena bagi masyarakat awam ada yang sebagian memahmakan sebagai benda yang memiliki kekuatan gaib, ini yang sering diketahui masyarakat, seperti keris itu milik dukun.

“Padahal tidak seperti itu, bagi saya, saat memegang keris, saat akan melepaskan keris dari warangkanya, saya memahami sebuah filosofi yakni manunggaling kawulan lan Gusti, ini seperti pemahaman masyarakat Jawa pada umumnya yakni mengenai lingga yoni, atau mungkin masyarakat Israel yang memiliki lambang bintang Daud, yakni proses penciptaan manusia. Manusia tercipta jika diletakkan pada tempatnya dengan benar. Memahami kemanusiaan, jati diri sebagai manusia, bisa belajar dari keris,” jelas Amrih.

Dalam pandangannya, saat ini ada beberpa sifat manusia yang memandang keris; pertama sebagai sebuah benda budaya yang memiliki arti filsofis, kedua sebagai benda pusaka, ketiga sebagai benda asesoris, keempat ada juga yang mengarah kepada klenik, dan kelima sebagai benda seni bernilai tinggi.

“Dimasa lalu, barangkali keris menjadi cirikhas suatu wilayah, jika melihat keris sebagai sebuah pusaka untuk mempertahankan diri, secara fisik, artinya seluruh lapisan masyarakat bisa memiliki keris, disini menunjukkan, jika kita memasuki suatu wilayah dan bertemu orang yang membawa pusaka atau senjata, keris misalnya, kita tahu bahwa ini adalah wilayah Yogyakarta. Harusnya kita perlakukan keris seperti itu, sebagai satu-kesatuan entitas identitas masyarakat suatu daerah,” kata Amrih.

Dalam pandangannya, yang terpenting saat ini adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap keris, bukan dari segi negatif seperti klenik atau senjata berbahaya yang menumpahkan darah. Tetapi kita kedepannya soal ciri khas budaya masyarakat Yogyakarta.

“Jika saat ini sudah ada Pergub mengenai busana adat Yogyakarta, khususnya yang laki-laki, pakaiannya dilekngkapi dengan keris, sementara diawali dari yang asesoris juga tidak masalah, nanti akan tergerak sendiri untuk meningkat, dengan mengkoleksi keris yang sesungguhnya, jadi keris bukan lagi kelengkapan pakaian, atau benda asesoris bernilai seni, namun menjadi sebuah pusaka, ibaratnya makin tinggi ilmunya, maka ketika membawa keris, orang tersebut akan makin amanah terhadap pusaka yang dibawanya,” kata Amrih. (red).

Lebih detail mengenai wawancara ini bisa disaksikan di kanal youtube berikut; Hapus Stigma Negatif Keris 27/9/2022 – 19.15 wib https://youtu.be/UGjEjYoRj6c

Artikel Serupa

Ke Atas