Anda berada di
Beranda > News > Ernest Prakasa Berbagi Ilmu Menulis Skenario di Hari Ketujuh JAFF 2018

Ernest Prakasa Berbagi Ilmu Menulis Skenario di Hari Ketujuh JAFF 2018

YOGYAKARTA  – Menjelang berakhirnya perhelatan tahunan Jogja-NETPAC

Asian Film Festival (JAFF), ada komedian Ernest Prakasa yang berbagi ilmu menulis skenario

secara gratis di program JAFF Education. Ernest yang juga dikenal melalui film-filmnya

“Ngenest,” “Cek Toko Sebelah” dan “Susah Sinyal” sudah terbukti handal dalam menulis

skenario film yang laris di pasaran. Ernest mengajar 20 peserta yang sudah dipilih oleh

pengurus JAFF.

 

Selain Ernest, sinematografer Gunnar Nimpuno dan gaffer Buadi melanjutkan kelas mereka

soal Digital Lighting di program JAFF Education lainnya. Sementara itu, program Jogja Future

Project juga memasuki hari terakhirnya. Kegiatan JAFF di Jogja National Museum ditutup

dengan penayanagn film lama “Tokyo Story” dari program Layar Klasik dan juga Open Air

Cinema film pendek “It’s Wijilan” dan film panjang “Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan

Cinta.”

 

Program Respect Japan meluncurkan omnibus “Asian Three-Fold Mirror 2018” yang

bertemakan Journey di Empire XXI. Program omnibus ini berisi tiga film pendek karya

sutradara Asia. Omnibus ini menyorot tentang bagaimana para karakter mengutarakan

kegelisahan hidup mereka ketika tengah berada di sebuah perjalanan.

 

Ada film “The Sea” dari Degena Yun yang bercerita soal perjalanan seorang ibu dan anak

menuju laut untuk menyebar abu hasil kremasi dari suami dan ayah tercinta. “Hekishu”

karya Daishi Matsunaga bercerita soal lelaki Jepang yang bermukim sementara di Yangon

dan bertemu gadis yang menarik perhatiannya.

 

Di akhir cerita, ada film pendek “Variable No 3” yang disutradarai oleh Edwin dan dibintangi

oleh Oka Antara, Agni Pratistha dan Nicholas Saputra. Film yang memiliki adegan

kontroversial ini mendapat sambutan meriah dari audiens yang didominasi penonton

Indonesia dan sudah familiar dengan tokoh-tokoh di film ini. Menarik juga bahwa Nicholas

sempat tampil sekilas di dua film pendek sebelumnya.

Sutradara Garin Nugroho selaku founder dari JAFF hadir sebagai pembicara di kuliah umum

“Focus on Garin Nugroho” bersama Paolo Bertolin dan Rina Damayanti. Diskusi berbicara

soal karir Garin sebagai sineas selama 33 tahun terakhir. Menurut Paolo, Garin selalu

berhasil menyajikan cerita yang kontekstual dan relevan dengan masanya.

 

Ada banyak film yang diputar kembali di hari Senin (3/12) ini. Beberapa di antaranya adalah

“Grit,” film dokumenter yang bercerita tentang perjuangan korban lumpur Lapindo untuk

mendapatkan keadilan, “Love is a Bird” karya sutradara Richard Oh, “Daysleepers” karya  sutradara Paul Agusta dan juga “The Song of Grassroots”

karya Yuda Kurniawan.

 

Program Light of Asia juga turut memutar kembali rangkaian film “Maja’s Boat,” “The

Imminent Immanent,” “Rest in Peace,” “Grandma’s Home,” “House No. 15 (Don’t Forget

toWear a Smile), “Kampung Tapir,” “The Moon is Bright Tonight” dan “Facing Death with

Wirecutter.”

 

Program Asian Perspective’s Short juga memutar kembali film “Laut Bercerita” yang

dibintangi oleh Reza Rahadian dan diadaptasi dari cerita karya jurnalis senior Leila Chudori.

Selain “I Come and Stand at Every Door” dan “Permanent Resident,” program ini juga

memiliki nomor unggulan lain, yakni “Ballad of Blood and Two White Buckets” karya Yosep

Anggi Noen. (qin)

Artikel Serupa

Ke Atas