Anda berada di
Beranda > Opini > Proses Kreatif Menulis Puisi Pada Era Sastra Multimedia

Proses Kreatif Menulis Puisi Pada Era Sastra Multimedia

Penyair Pulo Lasman Simanjuntak sedang baca puisi karya sendiri berjudul KALAH ATAU MENANG pada acara SASTRA REBOAN di PDS HB Jassin, TIM di Jakarta belum lama ini. (Foto : Dok/Lasman)

Ketika sedang ‘rehat’ disela-sela acara Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-10 pada Selasa sore (26/7/2022), persisnya di pelataran depan Gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Saya sempat ajak ‘diskusi pendek’ dengan para penyair yang tertua Omni Koesnadi, Nanang Ribut Supriyatin, Soekardi Wahyudi, Sapto Wardoyo, Kasdi Kelanis, Isson Khairul dan penyair muda berbakat dari Tasikmalaya Sahaya Santayana.

Mereka ada yang cerita sempat bertahun-tahun meninggalkan dunia sastra (baca: puisi!) terutama karena kesibukan bekerja baik di pemerintahan maupun di sektor wiraswasta.

Lalu balik lagi menulis puisi khususnya pada saat waktu ‘lowong’ karena pandemi covid yang berkepanjangan.

Namun, beberapa penyair rata-rata yang saya temui mengaku pernah (bahkan ada 10 tahun sampai 20 tahun lebih tak.menulis puisi) karena kesibukan bekerja dan mengurus keluarga.

Bagaimana dengan saya sendiri-yang sampai sekarang masih bekerja sebagai wartawan-apakah pernah tak menulis atau stagnasi dalam menulis karya sastra khususnya puisi dan sajak?

Kepada rekan Penyair Nanang R Supriyatin saya katakan-bersyukur kepada Tuhan diberikan kesehatan-dalam kurun waktu sejak tahun 1980-an sampai tahun 2022 ini rasanya saya ‘tak pernah putus’ dalam proses kreatif menulis puisi. Dua tahun ini saya membikin doktrinal: MENULIS PUISI MEMANG TAK PERNAH MATI.

“Seorang penyair harus berkarya setiap hari, Pak. Penyair diidentikkan dengan karya puisinya yang tak putus-putus sampai kita turun ke dunia orang mati,” kata saya kepada Penyair dan Sastrawan senior Sugiono Mpp melalui laman facebook-nya.

KEMATIAN IBUNDA

Bagaimana proses kreatif menulis puisi yang saya lakukan pertama kali. Saat masih duduk di bangku SMP kelas II bulan Juli tahun 1977 untuk pertama kalinya puisi saya berjudul IBUNDA dimuat di Harian Umum KOMPAS pada rubrik sanjak anak-anak. Bagaimana saya tahu bahwa puisi saya dimuat di Harian Umum KOMPAS?

“Lasman, di kantor kepala sekolah ada kiriman wesel untuk kamu. Coba ambil sana,” kata guru bahasa Indonesia saat saya sekolah di SMPN 85 di Jln.Wijaya Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Bukan main senangnya saya mengetahui puisi saya dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum KOMPAS dengan honor (saat itu) Rp 750,- (tujuh ratus lima puluh rupiah). Sampai hari ini kliping koran tersebut masih saya simpan dengan baik di perpustakaan pribadi.

Kematian ibunda tercinta-karena penyakit kanker ganas-saat saya masih duduk di bangku SMP kelas 2, telah mengiinspirasi dan memotivasi saya untuk terus bersemangat menulis puisi.

Sungguh, sedih berkepanjangan, jadi pendiam, dan stress karena kematian ibunda tercinta. Selain lahir sajak IBUNDA (1977) pada tahun 2021 saya masih menulis puisi berjudul IBUNDA MATI MUDA.

PENYAIR DARI KAMPUS STP

Saat saya kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP) di Gedung Kanisius Menteng Raya dan Lenteng Agung (angkatan 1981-red) mulailah saya ‘berkenalan’ dengan sejumlah penyair kampus seperti Arief Joko Wicaksono, Isson Khairul , Humam S. Chudori , Harianto Gede Panembahan, dan masih banyak lagi.

Saat bekerja sebagai reporter Majalah Remaja Monalisa saya bersama Penyair Wahyu Wibowo, Naning Pranoto, dan Nadjib Kartapati Z sempat membuka rubrik puisi. Hanya sayang, majalah ini tak bertahan lama. Bangkrut!

Dan, saat menjadi wartawan Harian Umum Sinar Pagi (1986-1996) dan wartawan Harian Umum Mandala ( 1996- 1999 pada perwakilan di Jakarta), saya tetap terus menulis puisi (manuskrip) dan masih sempat beberapakali puisi saya dimuat di Harian Umum Jayakarta.

Sayang, banyak kliping karya puisi saya ‘hilang’ ditelan air banjir Kali Krukut (anak Kali Ciliwung) di kawasan Jln.Rengas Kebayoran Baru dan Jln.Antena 6 Radio Dalam Jakarta Selatan.

BUKU ANTOLOGI PUISI TUNGGAL

Pada bulan Juli tahun 1997 buku antologi puisi saya TRAUMATIK (yang pertama) diterbitkan oleh penerbit CV Gita Kara dengan editor Penyair Ayid Suyitno PS dengan juga ‘berkonsultasi’ bersama Penyair Nanang Ribut Supriyatin.

Kemudian pada tahun yang sama terbit buku antologi puisi tunggal ke-2 berjudul KALAH ATAU MENANG yang diterbitkan oleh SASTRA KITA JAKARTA.

Disusul penerbitan buku antologi puisi tunggal BERCUMBU DENGAN HUJAN (2021-penerbit The First On-Publisher in Indonesia).

Selanjutnya buku antologi puisi tunggal MATA ELANG MENABRAK KARANG (2021-penerbit Cakrawala Satria Mandiri). Lalu TIDUR DI RANJANG PETIR (2021-diterbitkan oleh CV Megalitera). Serta RUMAH TERBELAH DUA (2021, penerbit CV Poiesis Indonesia).

“Puji Tuhan, empat buku antologi puisi saya sepanjang tahun 2021 lalu diterbitkan oleh penerbit swasta. Prosesnya dimulai saya menawarkan naskah puisi, berikut disertakan biodata, foto, kata pengantar, dan sinopsis kepada penerbit. Setelah melalui proses kurasi yang ketat dan butuh waktu sekian bulan, pada akhirnya karya puisi saya diterbitkan secara GRATIS dengan sistem royalti. Paling saya diwajibkan untuk membeli buku hanya 10 ekslemplar untuk nomor bukti dan untuk relasi. Jadi, saat ini untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ada melalui jalur mandiri (biaya sendiri) dan melalui jalur diterbitkan secara GRATIS,” kata saya ketika Penyair Omni Koesnadi bertanya kepada saya mengenai proses penerbitan buku antologi puisi tunggal saya saat rehat perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-10 di depan pelataran Teater Kecil TIM Jakarta, Selasa sore (26/7/2022).

Pada hari ini (Jumat, 29 Juli 2022)-mohon doa restunya-saya tengah mempersiapkan penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 berjudul BILA SUNYIKU IKUT TERLUKA. Puji Tuhan, sudah ada beberapa penerbit yang bersedia menerbitkan buku antologi puisi tunggal ini.

Sementara untuk buku antologi puisi bersama para penyair seluruh Indonesia, karya puisi saya ada termuat di 15 buku antologi puisi bersama. Hari ini saya sedang menunggu kedatangan buku antologi komunitas HB Jassin 2021-2022 ANGKATAN MILENIAL untuk mengenang Sang Pujangga HB Jassin yang diterbitkan oleh Dapur Sastra Jakarta (sudah dua tahun ini saya masuk anggota Dapur Sastra Jakarta).

Sebanyak 7 buku antologi puisi tunggal saya oleh penerbit telah diserahkan ke Perpustakaan Nasional di Jln. Salemba Raya Jakarta Pusat serta Pusat Dokumentasi Sastra (PDS-HB Jassin). Saat pandemi covid dan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM), saya minta bantuan (via telepon) kepada rekan Penyair Ritawati Jassin.

Sekedar tambahan memasuki era tahun 2000-an hampir kurang lebih 14 tahun (saat itu saya bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Suratkabar Dialog-Jakarta) karya puisi saya (lebih banyak merupakan karya puisi rohani gereja) dimuat di Majalah Mahkota milik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Konferens Jakarta .
Karya puisi rohani ini sudah diterbitkan dalam buku antologi puisi saya yang ketiga diberi judul Taman Getsemani penerbitnya adalah Komunitas Sastra Pamulang (KSP-2016).

Sungguh suatu yang menggembirakan pada Juli tahun 2012 hampir setengah halaman koran di Harian Umum Seputar Indonesia (SINDO) edisi minggu memuat beberapa karya puisi saya.

ERA SASTRA MULTIMEDIA

Sejak tiga tahun terakhir ini dalam proses kreatif menulis puisi saya mulai ‘merambah’ ke sastra multimedia, dan rajin mempublish karya-karya puisi melalui media sosial (medsos) dan media online.

Seperti kelakar Penyair Kasdi Kelanis dari Sragen bahwa kita ini ‘penyair facebook’. Betul, saya ini masuk kategori ‘penyair facebook’ era pandemi covid-19 seperti diakui sendiri oleh Penyair Senior Sugiono Mpp yang belakangan ini rajin kritisi dan menulis tentang karya-karya puisi saya di media digital.

Sepanjang era sastra multi media ini Penyair Nanang Supriyatin, Ayid Suyitno PS, dan Humam S Chudori pernah menulis dan membahas karya-karya puisi saya yang termuat dalam buku antologi puisi tunggal.

Bahkan belum lama ini Mas Bagyo (redaktur, penyair, dam cerpenis) menulis dan membahas karya puisi saya yang dimuat Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA.

Saya bersyukur punya akun facebook (#lasman simanjuntak dan #BRO), instagram (#lasmansimanjuntak) serta akun youtube (#beritaraya tv dan #lasman tv yang subbcriber nyaris tembus 900, masih sedikit memang). Dan, saya juga ikut bergabung serta menjadi member sejumlah komunitas dan masyarakat sastra pada laman facebook.

Selain itu (untuk dokumentasi ke link google) saya juga rajin mempublikasikan karya puisi melalui rubrik sastra website beritarayaonline.co.id dan myberitaraya.blogspot.com.

Semoga Tuhan memberikan kesehatan kepada saya untuk terus menulis puisi, ditengah kesibukan bekerja sebagai wartawan dan juga seorang rohaniawan.

Puji Tuhan, pada puncak perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-11 yang berlangsung di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) , Jakarta, Rabu (26 Juli 2023)-dalam keadaan kondisi sehat wal’afiat saya bisa bertemu lagi dengan rekan Penyair Nanang R Supriyatin, Sapto Wardoyo, Herman Syahara, Romy Sastra, Kurnia Effendi, Mas Edo, Omni Koesnadi, Wahyu Toveng, dan sejumlah Penyair Perempuan Indonesia (PPI).

Di bawah ini saya turunkan sejumlah puisi terbaru.

Puisi Karya: Pulo Lasman Simanjuntak

 

BENIH BATU

sunyiku
hening
sepiku diam

tumbuh terasing
di semak belukar
dan tanah kerikil

ditabur
benih batu
berbuah kebenaran
sampai seratus kali lipat
jadi tabiat

lalu kubawa terbang
memburu awan
menyatu dengan tingkap-tingkap langit
meniup pekabaran malaikat
pada akhir zaman

Jakarta, Jumat 14 April 2023

 

RUMAH SEMAWI

membaca airmata
di bawah matahari
seperti aku mengiringi
perjalanan bishop gurun pasir
dengan tiga belas penderitaan
ditulis di kota efesus dan galatia
dipenjara bawah tanah kota roma

lalu kuperas lagi
kematian rohani
sebuah pertarungan paling brutal
tanpa sebilah sabit merah
rohku makin membara
mau berbalik menghadap tembok ratapan
penyesalan dibuang ke dasar lautan
paling dalam

kepada malaikat serafim kutitipkan
berlaksa-laksa dosa merah
seperti buah kirmizi
agar tubuhku yang sudah tumbuh bersayap
siap terbang menuju rumah semawi

di sana akan kutulis kembali
syair-syair awan
nyanyian kidung memanjang

jelang perayaan dua puluh lima abad
kutabur benih batin
air suci
di atas pelataran kekekalan

Jakarta, Senin 10 April 2023

 

AKU DAN LEGION

aku dan legion
tanpa sayap bertulang
terbang dari langit ketiga
terusir dari tanah suci
membawa api
menyala-nyala liar

lidahnya menyemburkan
kata-kata berbisa
keji dan kejam
sungguh mematikan

aku dan legion
lalu menyembah mezbah naik darah
berteriak sekeras-kerasnya
di gurun turun hujan beracun
mabuk air keras
mempermalukan semua jamaah

ada kesakitan bertalu-talu
ada hamba uang
dipersembahkan raja pezinah
dari negeri timur jauh
setia bersetubuh
dengan asytoret, milkon,
kamos dan molokh

aku dan legion
pada akhirnya tukar cerita
mau berdamai
berpelukan dengan sebongkah batu karang
sepakat membangun ribuan sungai
mata airnya hidup dan bertumbuh
mengalir sampai permukaan hati

Jakarta, Minggu 5 Maret 2023

 

MENULIS SAJAK DENGAN AIR LUMPUR

menulis sajak dengan air lumpur
tubuhku harus turun perlahan
ke kaki-kaki bumi

jaraknya dibatasi ribuan paralon
kadang tak puasa seharian
menelan perkakas biji besi

sampai bersekutu
dengan kegelisahan
tak mandi matahari

nyaris tiga tahun
aku buas memperkosa
apa saja binatang liar
yang menyusup dalam air tanah

menulis sajak dengan air lumpur
tak kunjung selesai
sampai bait ketiga

lalu kutebar kemarau
di area persawahan yang berkabut
baunya sangat membusuk

racunnya tiba-tiba membentuk
sebuah ritual yang menyebalkan
sehingga kulitku gatal dan keruh
membabi buta siang dan malam

maka menulis sajak dengan air lumpur
harus diakhiri dengan doa syafaat
biar mengalir kran air hikmat
dari hilir ke hulu
sungai-sungai kehidupan
tak putus pada mata air
sampai maranatha
di ujung senja

Jakarta, Rabu, 5 April 2023

 

SAJAK PERJALANAN PENYAIR

perjalanan penyair
ternyata tak kunjung selesai
ribuan kilometer sudah ditempuh
menembus ruang dan waktu
nyaris berbatu-batu

kadang tanpa nyala api
dan tanpa tiang matahari
mengangkut sekeranjang persungutan abadi
disantap buah kelaparan
disebar di tikungan jalan sangat tajam

perjalanan penyair
sering dipermalukan
berulang-ulang jatuh
minta sesuap makan ikan
dengan saudara tak kembar
seperti peristiwa tadi malam
seekor bulan purnama bertanya lagi
bagaimana mengeja masa depan
ada menjelma roh ketakutan

entah sampai kapan
emua berakhir di kuburan

Jakarta, Selasa, 18 Juli 2023

 

TELEPON BENCANA

telepon bencana saya terima malam tadi usai kelelahan sterika listrik sampai halus berita-berita korupsi dan lagu partai politik baru dengan janji seperti suara anjing rabies yang sedang viral di media sosial

telepon bencana lalu berpesan untuk segera berangkat tepat pukul sepuluh malam naik transportasi kereta api cepat massal untuk menuju ke sebuah pegunungan es yang sedang pameran proyek konstruksi dengan meminjam dana talangan dari bank-bank di luar angkasa alam semesta

telepon bencana membuat saya marah, kesal dan nyaris bipolar karena esok hari saya harus mendendangkan lagu puisi sejarah masa lalu di sebuah gedung kesenian rakyat yang dibangun dengan setengah tubuh cacat dan nyaris lumpuh

telepon bencana pada akhirnya harus saya tutup dengan sel-sel otak besar dan kecil pecah berhamburan di dinding rumah dengan tiga musibah tertulis dalam puisi tempohari

telepon bencana tetap saja membuat saya bisa nyenyak tidur walaupun rekening bank telah diblokir dan angka statistik jumlah kemiskinan serta pengangguran di negeri ini terus terbang ke cakrawala sampai mencapai angka seribuan warga negara yang pindah kewarganegaraan
bagi kemiskinan dengan cuaca yang makin ekstrim

Jakarta, Selasa 11 Juli 2023

 

Sebelum menutup tulisan opini ini ada satu komentar yang disampaikan oleh Penyair Anto Narasoma, Senin 17 Juli 2023 (dari Palembang, Sumatera Selatan) terhadap beberapa karya puisi Penyair Pulo Lasman Simanjuntak.

“Wah, secara estetik, puisimu begitu kuat Bang Pulo Lasman Simanjuntak.”

“Secara semiotik, pemaparan nilai di dalamnya begitu matang. ”

“Iya. Itulah kandungan jiwa yang sarat estetika sastra. Apabila melihat fokus ide yang ditangkap, ia akan menjadi karya yang bernas dan kaya estetik.”

 

Ditulis oleh: Pulo Lasman Simanjuntak

(**/penulis adalah penyair dan sastrawan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Kontak Person 08561827332-WA).

Artikel Serupa

Ke Atas