Anda berada di
Beranda > News > Gen Alpha Sangat Melek Peristiwa di Media Sosial, Jauh Melebihi Para Seniornya

Gen Alpha Sangat Melek Peristiwa di Media Sosial, Jauh Melebihi Para Seniornya

BANTUL – Dewasa ini, setiap peristiwa bisa dengan mudah menyebar di media sosial dalam kurun waktu yang sangat cepat. Setiap peristiwa (yang menjadi viral) datang silih berganti setiap saat, seolah menjadi tren baru yang harus diikuti oleh siapa saja, dan seterusnya.

Anak-anak kelahiran 2000-an atau yang disebut Gen Alpha, adalah orang-orang beruntung yang mampu menyerap berbagai peristiwa alias informasi yang tersebar di media sosial dengan sangat cepat, dan tidak pernah ketinggalan sedikitpun informasi yang beredar dari seluruh dunia.

Hal inilah yang tidak sanggup diikuti oleh generasi X, atau orang-orang yang lahir pada tahun 90-an ke belakang. Di mana mereka harus mencerna setiap informasi dengan sangat detail terlebih dahulu, sebelum akhirnya take action atau membagikannya kepada teman-temannya, dan seterusnya.

Terlebih media sosial memang muncul di saat orang-orang ini sudah beranjak dewasa, sehingga adaptasi yang diperlukan memang sedikit lebih lama, dan butuh kesadaran lebih untuk bisa mengikuti arus informasi yang begitu deras di media sosial seperti saat ini.

“Sekarang itu kan hampir semua peristiwa, semua kejadian itu kan selalu serba cepat ya. Dan memang benar bahwa kalau telat mengupload itu sudah nggak update lagi. Makanya saya itu kagum, jangan-jangan, dna memang faktanya bahwa kecerdasan para penulis generasi alpha itu berbeda dengan kecerdasan generasi kami,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Salah satu indikator yang mudah dilihat oleh Joni adalah kecenderungan generasi X untuk membaca referensi fisik seperti buku atau semacamnya. Sementara anak-anak muda alias gen Alpha bisa langsung mengecek aplikasi AI yang tersedia di ponselnya masing-masing, untuk memantau referensi pada topik yang sama.

“Karena mereka bisa merespons segala sesuatu (peristiwa) dengan sangat cepat, dan juga menuliskannya dengan sangat cepat. Sementara generasi kami responnya lambat, kemudian untuk mencari referensi bahan itu ke buku-buku yang tebel itu. Sementara untuk generasi alpha, mereka itu kan mencari referensinya langsung pakai AI gitu kan. Walaupun kedalamannya (AI) memang kurang,” tambah Joni.

Joni menilai, anak-anak muda saat ini lebih mementingkan unsur peristiwanya, alias cukup mengetahui “apa yang terjadi?”, ketimbang benar-benar mendalami peristiwa tersebut dengan rinci, atau “mengapa bisa begitu?” dan seterusnya. (qin)

Artikel Serupa

Ke Atas