
BANTUL – Seniman selalu memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan ide dan gagasannya, untuk dituangkan menjadi sebuah mahakarya yang layak disaksikan oleh banyak orang.
Menurut Syahrizal Pahlevi, seorang seniman asal Palembang, Sumatera Selatan, yang sehari-hari menggeluti seni grafis maupun seni rupa, menganggap bahwa menghasilkan karya seni haruslah memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak banyak dimiliki atau dilakukan oleh orang lain.
Salah satunya adalah karya seni rupa menggunakan cukil kayu.
Teknik melukis cukil kayu diketahui bukanlah teknik yang bisa sembarangan dilakukan orang, termasuk seniman sekalipun. Lukisan semacam ini membutuhkan bahan-bahan berupa papan kayu (matriks), kayu lunak, pisau cukil, tinta cetak grafis, rol karet, serta kertas/kain sebagai media cetak. Proses pengerjaannya membutuhkan waktu berhari-hari, hanya untuk menyelesaikan satu jenis karya.
Meskipun terdengar sangat sulit, namun Pahlevi justru menyukainya, karena dengan melukis menggunakan cukil kayu, ia tahu kapan harus berhenti, atau sampai mana ia harus mengakhiri sebuah karya grafisnya. Berbeda dengan karya lukis menggunakan kanvas dan media kertas, yang bisa asal coret dimana saja dan tak ada habisnya.
“Saya pernah punya pengalaman stress dulu, ketika tidak tahu kapan berhenti menggoreskan kuas di atas media kertas. Tapi di cukil kayu ini beda. Saya tahu kapan mulai dan juga kapan untuk berhentinya,” ucap Pahlevi dalam sesi jumpa media terkait Pameran Lukis Cukil Kayu bertajuk “Pameran Grafis Lintas Batas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026).
Pahlevi menambahkan, dengan melukis menggunakan cukil kayu, ia lebih mampu mengekspresikan ide dan perasaannya, ke dalam bentuk yang lebih realistis sekaligus sulit (namun hasilnya lebih memuaskan), ketimbang seni lukis biasa yang hanya menggunakan kanvas dan lain sebagainya.
“Bagi saya melukis dengan cukil kayu itu punya tantangan tersendiri, tapi justru lebih menyenangkan. Nggak tahu juga kenapa, kayak asik aja gitu. Kalau melukis dengan kanvas kan sudah terlalu biasa buat saya,” tambah Pahlevi.
Pameran lukisan cukil kayu karya Syahrizal Pahlevi ini memuat lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang merupakan rangkuman perjalanan hidupnya di beberapa tempat, terutama di Palembang, yang merupakan kota kelahirannya, serta Yogyakarta, tempatnya menghasilkan karya seni sekaligus merangkai hidup di bidang kesenian bersama para rekan sejawat.
Tidak hanya Palembang dan Jogja, Pahlevi juga turut menghadirkan kisah-kisah hidupnya saat berada di luar negeri, salah satunya di Jepang.
Seluruh karya lukis cukil kayu Syahrizal Pahlevi bisa disaksikan di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, pada 10-19 Maret 2026. (qin)

