Anda berada di
Beranda > News > Budidaya Pohon Joho Sangat Penting untuk Pelestarian Pewarna Alam Batik

Budidaya Pohon Joho Sangat Penting untuk Pelestarian Pewarna Alam Batik

Penyerahan simbolis budidaya tanaman joho kepada pembatik (Foto: Azka Qintory)

BANTUL – Keberadaan pewarna batik alami kini semakin sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi proses pembuatannya juga cenderung rumit, membutuhkan waktu yang cukup lama, serta masih kalah saing dengan pewarna sintetis atau printing.

Adapun salah satu sumber pewarna batik alami yang masih bisa dimanfaatkan adalah pohon joho. Pohon yang satu ini memiliki khasiat pewarna yang sangat baik untuk batik, sebagai salah satu warisan Nusantara yang telah diakui oleh UNESCO sejak 2009 lalu.

Dengan maraknya pewarna sintetis maupun printing, keberadaan pohon joho menjadi sangat penting untuk terus dirawat oleh masyarakat setempat. Apalagi jumlahnya juga terus menipis dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu pihak yang terbukti berhasil membudidayakan pohon joho sebagai pewarna batik alami adalah Sanggar Wani Migunani, yang berlokasi di Ambarbinangun, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Mereka telah berhasil menemukan cara yang tepat untuk membudidayakan pohon joho, dan menanamnya kembali di kebun milik mereka. Sehingga khasiat dari pohon joho benar-benar mampu menghasilkan pewarna batik alami, sebagai bahan pewarna yang sangat dibutuhkan oleh para pembatik di Yogyakarta maupun seluruh Indonesia.

“Kita sudah selama dua tahun mulai melakukan penelitian dan ujicoba segala macem, yang dimulai dari Gunungkidul pada saat COVID. Kita dapet ada 10 pohon yang kebanyakan di sekitar makam, jadi usianya sudah pasti ratusan tahun. Jadi kita ambil bijinya dari pohon-pohon tersebut, untuk kemudian kita tanam di sini (Kebun Wani Migunani). Alhamdulillah di tahun ini kita sudah berhasil (menanam pohon joho),” ungkap Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani, beberapa waktu lalu.

Awit pun merasa bahwa masyarakat (khususnya pembatik) sebaiknya mengikuti jejaknya dalam membudidayakan pohon atau tanaman joho di lingkungannya masing-masing.

Hal itu semata-mata agar keberlangsungan pohon joho tidak segera punah atau rusak (akibat ditebang dan lain-lain), sekaligus menjaga pewarna batik alami tetap lestari di tengah-tengah masyarakat pembatik di seluruh Nusantara. Alih-alih terus menggunakan pewarna sintetis atau printing dalam menghasilkan produk batik.

“Rencananya selain kita akan menanam (lebih banyak tanaman dari pohon joho di kebun), kita juga akan membagikan tanaman ini ke komunitas, pembatik, atau siapa aja yang mau nanam deh, ke sekolah kek, atau ke mana gitu, mau kita kasih, kita bagikan supaya nggak punah, gitu aja,” sambung Awit.

Awit pun mengaku belum memiliki keinginan untuk menjual tanaman joho tersebut kepada masyarakat. Karena yang terpenting baginya adalah bagaimana agar pohon joho tetap lestari, dan membawa manfaat bagi seluruh masyarakat, khususnya kalangan pembatik. (qin)

Artikel Serupa

Ke Atas