Kamu ada di
Home > Opini > Semua Karena “Keluarga”

Semua Karena “Keluarga”

Membentangkan spanduk SPJ di Puncak Sikunir, Dieng, Wonosobo, 31 Desember 2016 (Foto: Dok. pribadi)

Ini hanya tulisan lepas saya. Bagian dari opini saya yang baru berproses di Suara Pemuda Jogja kurang lebih tiga tahun ini. Pada ulang tahun ke 6 SPJ, kami diminta untuk menulis apapun, baik
itu keluh kesah, curhat atau apapun itu. Namun di bagian ini, saya mencoba mengorek apa yang sejatinya membuat saya betah untuk berproses di organisasi ini.

Saya mengenal SPJ sudah cukup lama. Satu hal yang membuat saya yakin untuk berproses adalah kebutuhan untuk mencari pengalaman dan keluarga.

Pertama masuk di SPJ saya ditugasi untuk meliput berbagai event. Jujur, ini merupakan pengalaman pertama kali saya untuk terlibat dalam reportase. Tanpa berbekal kartu pers, saya
memberanikan diri untuk blusukan ke beberapa event dan meliputnya. Rasanya puas sekali ketika hasil tulisan saya telah dipublikasikan. Namun dalam perjalanannya, langkah saya cukup
terarahkan pada event organizer dalam beragam kegiatan yang diselenggarakan SPJ, entah itu workshop, lomba, dan sebagainya. Saya merasa cukup akrab dan antusias untuk menyusun
rundown, mengatur acara, bahkan menjadi MC sekalipun. Meskipun demikian, saya juga tetap
menulis berita lho (hehe..)

Beberapa bulan lalu, saya bertemu dengan salah seorang mitra. Ia melontarkan satu pertanyaan yang cukup mengena di hati saya. Kurang lebih pertanyaannya begini, ‘Mengapa Mbak Desi masih bertahan di SPJ?’. Sejenak saya terdiam. Bukan karena tidak tahu jawabannya, akan tetapi saya tidak tahu cara mengatakannya. Yang saya rasakan adalah adanya suasana kekeluargaan yang begitu kental. Ragam kegiatan informal sering kami lakukan bersama, baik itu makan bareng, dolan bareng, bahkan mancing bareng. Melalui hal inilah saya merasa begitu dekat
dengan rekan-rekan. Candaan ringan sering terucap dan mengiringi langkah-langkah kami yang semakin ‘menua’ yaitu 6 tahun. Tidak hanya itu, kawan-kawan SPJ juga sangat saling mengerti
dan memahami. Seringkali saya terpaksa harus ijin untuk tidak ikut kegiatan karena ada kegiatan lain saya, salah satunya adalah riset. Dengan suasana inilah saya betah dan masih ingin belajar
bersama dengan rekan-rekan SPJ.

Tidak ada alasan praktis, hanya ada satu kata yaitu : kekeluargaan. Kawan-kawan merupakan bagian dari keluarga saya. Dan layaknya sebuah keluarga, ada rasa saling mengerti dan mengisi
hari-hari saya dalam belajar dan mencari pengalaman. Sukses selalu untuk SPJ!

 

Opini ditulis oleh Desiana Rizka Fimmastuti,

Rabu, 6 Desember 2017

Artikel yang Serupa

Top