Kamu ada di
Home > Opini > Surat Terbuka Untuk Siapa?  

Surat Terbuka Untuk Siapa?  

Kepada yang terhormat seluruh panitia seleksi penerimaan pamong desa, yang saya banggakan peserta seleksi calon pamong desa. Serangkaian kegiatan pemilihan pamong desa formasi dukuh Ponggok telah usai, dan telah menghasilkan siapa pemenang dari seleksi pemilihan pamong desa ini. Kegiatan ini telah terlaksana dengan baik, dimulai dari sosialisasi, dilanjutkan seleksi penerimaan berkas kemudian technical meeting, kemudian inti dari acara ini yaitu kegiatan ujian baik ujian psikotes, tertulis, praktek maupun wawancara, dan kemudian langsung dilanjutkan hasil yang didapatkan. Begitu tertib dan berjalan lancar semua kegiatan ini walaupun sedang terjadi bencana banjir di beberapa titik di daerah Yogyakarta. Seleksi ini diikuti oleh lima calon dengan berbagai latar belakang dan merupakan perwakilan dari masyarakat pedukuhan Ponggok. Akan tetapi sayangnya ada satu calon yang tidak bisa mengikuti ujian dikarenakan sesuatu hal yang tidak bisa ditinggalkan.

Perlu diketahui bahwa ujian seleksi ini berlangsung hampir 12 jam, dimulai pukul 08.00 dan berakir pukul 20.00. tetapi secara teknis waktu berlangsung bisa lebih dari itu karena hasil diumumkan sekitar pukul 22.00. Jauh sebelum ujian dimulai, berbagai persiapan telah dilakukan oleh semua peserta calon pamong desa. Termasuk saya sendiri, bahkan saya telah mempesiapkan diri saya jauh sebelum pengumpulan berkas formulir pendaftaran. Berbagai setrategi saya lakukan baik yang berupa usaha maupun doa. Setelah mendengar sosialisasi yang dilakukan oleh pihak panitia mengenai materi ujian saya langsung mencari informasi mengenai materi – materi yang di ujikan yaitu Undang – Undang Desa, Undang – Undang Keistimewaan Yogyakarta serta Perda No 5 tahun 2016 tentang Pamong desa. Saya membaca tiap poin dari setiap Undang – undang tersebut hampir setengah dari hal – hal penting telah saya kuasai mengenai tata hukum Desa. Berharap saat ujian mampu mengerjakan dengan mengharap hasil yang maksimal. Selain itu saya juga berusaha dengan doa saya mengamalkan beberapa puasa sunah sholat tahajud, juga membaca sholawat nariyah. Hal tersebut merupakan saran dari mbah kaum.

Akhirnya pada 29 November 2017, ujian telah berlangsung dengan khidmat tanpa ada halangan. Walaupun yang harusnya diikuti lima peserta akhirnya hanya diikuti empat peserta. Kebetulan saya adalah peserta dengan nomor urut 01, jadi saya duduk paling depan. Ujian Psikotes berlangsung sekitar 3 – 4 jam, memang ujian semacam ini yang memakan waktu paling lama dan melelahkan. Kemudian break sholat dan makan kemudian dilanjutkan ujian tertulis. Sebelum ujian tertulis masih saya sempatkan belajar walaupun peserta lain malah pada asik ngobrol sendiri – sendiri. Saat saya mencoba membuka ponsel saya saya browsing soal soal tentang desa saya pelajari secara detail dan mendalam karena kebetulan disertai dengan jawaban. Setelah melakukan ujian tertulis saya begitu kaget karena soal – soal yang diujikan adalah sama dengan yang saya pelajari. Saya membatin bahwa Allah menjawab setiap doa – doa saya. Saya mengerjakan soal dengan cepat karena yang saya pelajari hampir semua keluar. Begitu pede-nya diri saya, kemudian saya beralih ke soal essay yang berjumlah 10 soal ketika teman – teman masih sibuk dengan soal pilihan gandanya saya sudah merambah ke soal essay saya mengerjakan dengan begitu tenang dan santai disediakan selembar folio namun saya masih kurang lembar jawab kemudian meminta pada pengawas ujian. Waktu menunjukkan pukul 15.15, saya lalu bergegas keluar dan menjalankan solat asar karena waktu break yang hanya sebentar. Setelah itu dilanjutakan dengan tes wawancara, saya lagi-lagi menjadi peserta pertama yang diuji, saya pun menjawab pertanyaan dari penguji dengan lantang dan tegas. Penguji terus mencecar saya dengan pertanyaan – pertanyaan kritis dan tajam. Kembali saya pun dengan pede dan tenang tetap berusaha menjawab setiap pertanyaan sebaik mungkin. Setelah ujian wawancara selesai langsung dilanjutkan ujian praktik. Disini saya agak terkejut karena tidak ada jeda sedikitpun antara ujian satu dengan yang berikutnya. Tetapi saya dengan tenang mempraktikkan sesuai dengan kemauan penguji, karena disitu saya juga dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, tetapi saya menjawabnya dengan agak cerdas (ngalem dewemerasa sok tenang, red) sehingga pengujipun hanya mengiyakan argumen saya.

Tepat pukul 17.30 seluruh peserta ujian telah menyelesaikan seluruh rangkaian ujian. Dan inilah saat yang paling mendebarkan. Menunggu hasil ujian seleksi, satu jam, dua jam, barulah pengoreksian selesai. Karena menunggu sampai berjam – jam, saya mulai memendam sedikit kecurigaan, mengapa mengoreksi ujian yang hanya diikuti empat orang memakan waktu yang begitu lama, tapi saya tetap khusnudhon saja, mungkin memang butuh proses yang lama untuk melakukan koreksi. Dan jeng – jeng! hasil telah didapatkan, akan tetapi panitia menghendaki agar keputusan dibuka di balai Desa. Dan saya piker itu adalah keputusan yang bijak.

Sesampainya di Balai Desa, sudah banyak warga yang berkerumun penasaran dengan ujian hasil seleksi. Saat akan mengumumkan di Balai Desa, petugas masih harus menunggu beberapa anggota panitia serta Kepala Desa setempat, semuanya menjadi begitu lama sampai akhirnya beberapa panitia yang telah berjibaku dari pagi mulai agak emosi karena mereka sudah merasa lelah. Saat yang ditunggu – tunggu pun tiba, semua sudah hadir dan prosesi pengumuman pun dibuka. Sambutan ketua panitia dan Kepala Desa sebagai prosesi awal telah dilakukan, dan pengumuman dibacakan oleh Kepala Desa sendiri. Kepala desa membacakan hasilnya dengan runtut dan menghasilkan siapa mendapat nilai di setiap ujian yang dilakukan.

Saya pun terkejut dengan hasilnya, karena selain saya, keempat calon lain merupakan lulusan – lulusan lama, maksudnya sudah jarang membaca buku atau belajar. Saya yang tadinya sudah pede jadi tertunduk lesu. Saya yang belajar mati – matian sejak jauh – jauh hari sebelum ujian merasa gagal. Saya yang sudah mempelajari dan yakin akan jawaban saya begitu kaget dan agak kecewa. Benarkah ini hasilnya. Rasanya sakit tapi tidak berdarah. Ini yang saya rasakan, mengingat latar belakang masing – masing calon, yang menurut saya kapabilitasnya tidak sebaik saya. Tapi apapun itu, saya tetap berusaha tegar, dan menurut saya ini merupakan sebuah pengalamn mahal yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Di usia saya saat ini yaitu 21 tahun lebih dua bulan, saya merasa begitu puas dengan hasil belajar saya. Saya yakin bahwa hasil terbaik yang diperoleh adalah yang terbaik untuk Ponggok kedepannya. Saya tahu bahwa itu adalah jalan terbaik yang diberikan oleh Allah kepada saya.

Di surat terbuka ini tidak saya tunjukan untuk siapa, makanya saya kasih judul “Surat Terbuka untuk Siapa?” Mungkin nantinya pembaca surat ini bisa memberikan saya komentar untuk siapa surat ini harus saya tunjukkan. Intinya saya hanya ingin mengatakan untuk semua generasi muda agar jangan takut untuk mencoba, terlepas apakah hasilnya nanti tidak sesuai dengan ekspektasi kita sekalipun kita sudah mantap dan yakin. Saya juga berpesan kepada pihak yang terkait, apabila hendak mengadakan agenda seperti ini, jangan buat kami terluka dengan hal yang membuat usaha kami seolah seperti sia – sia. Menilai sesuatu hanya karena kedekatan bukan dari usahanya (baca: nepotisme). Teori kepemimpinan mengatakan, tiga hal pemimpin itu dilahirkan karena, pertama keturunan, kedua usaha, dan ketiga bakat. Bila anda akhirnya mematahkan usaha kami, setidaknya jangan beri kami harapan palsu, dengan menggembor – gemborkan jargon bersih-jujur-gratis maupun embel – embel palsu lainnya. Kami sudah menunjukkan semua yang kami bisa, tapi nyatanya semua itu tidak anda hiraukan sama sekali!

 

Opini Ditulis Oleh Restu Aji, Mahasiswa yang lahir di Bantul 23 September 1996, tinggal di Jerukan Ponggok Sidomulyo Bambanglipuro Bantul, pembuat blog; http://restuajiembantul.blogspot.co.id, Jumat, 30 November 2017

Terima kasih untuk berbagi berita di :

Artikel yang Serupa

Top